RI News Portal. QAMISHLI, Suriah Timur Laut — Pasukan keamanan yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri Suriah memasuki kota Qamishli pada hari Selasa, menandai tahap penting dalam pelaksanaan kesepakatan antara pemerintah Damaskus dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin warga Kurdi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya rekonsiliasi nasional pasca-konflik panjang, dengan tujuan mengembalikan kendali atas institusi negara di wilayah timur laut yang selama bertahun-tahun berada di bawah administrasi otonom.
Konvoi pasukan keamanan tiba di Qamishli, kota mayoritas penduduk Kurdi di Provinsi al-Hasakah, menyusul kedatangan mereka sehari sebelumnya di kawasan sekitarnya. Berdasarkan kesepakatan yang dicapai akhir Januari lalu, pasukan tersebut dikerahkan secara terbatas. Tugas utama mereka adalah mengamankan fasilitas-fasilitas vital milik negara, seperti kantor catatan sipil, departemen paspor, bandara Qamishli, serta perlintasan perbatasan dan infrastruktur minyak, sekaligus memastikan layanan publik di sana dapat beroperasi kembali demi kepentingan masyarakat luas.

Menjelang kedatangan konvoi, keamanan diperketat di Jalan Amuda—arteri utama menuju pusat kota. SDF memberlakukan jam malam, sehingga jalanan terlihat sepi, toko-toko ditutup, dan petugas keamanan bersenjata lengkap dari SDF serta pasukan Kurdi setempat (Asayish) tersebar di persimpangan-persimpangan strategis. Beberapa petempur terlihat menutup wajah, dan di antara mereka ada pula prajurit wanita. Bendera kuning Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) masih berkibar di samping bendera Kurdi yang menghiasi deretan toko yang tutup.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah, Nour al-Din al-Baba, menyatakan bahwa koordinasi dengan pihak SDF berjalan lancar. “Kami sedang bekerja sama dengan pihak lain di dalam Qamishli agar pasukan kami dapat ditempatkan dengan aman,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa terdapat jadwal dan program jelas untuk menyelesaikan seluruh klausul kesepakatan, termasuk pengelolaan fasilitas strategis agar kembali berfungsi sepenuhnya bagi rakyat Suriah.
Baca juga : Putin dan Xi Perkuat Poros Anti-Barat di Tengah Ketidakpastian Global
Sementara itu, Samer Ahmad, anggota pasukan keamanan Kurdi setempat, menegaskan bahwa kendali keamanan kota masih di tangan SDF. “Kami telah mengambil semua langkah pencegahan yang diperlukan. Pasukan kami siap menghadapi ancaman sel tidur atau upaya sabotase,” katanya sambil memegang senjata dan memantau situasi. Ia menjelaskan bahwa kehadiran pasukan pemerintah hanya sementara dan terbatas pada empat titik di kota, dengan harapan penarikan penuh setelah proses integrasi selesai.
Di kawasan Tell Brak, timur Hasakah, konvoi sebelumnya disambut hangat oleh warga setempat. Kerumunan berbaris di pinggir jalan, melambaikan bendera Suriah sambil bersorak “Rakyat Suriah satu!”. Beberapa pria menembakkan peluru ke udara sebagai tanda perayaan, sementara wanita mengeluarkan sorak tradisional. Adel al-Ahmad, salah seorang warga yang menyambut, menyatakan harapannya agar tentara Suriah dapat mengambil alih sepenuhnya. “Kami ingin kebahagiaan ini menyebar ke seluruh negeri, dari utara hingga selatan,” ucapnya.

Warga Arab di wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai SDF sering kali mengeluhkan marginalisasi politik dan ekonomi. Di sisi lain, sebagian komunitas Kurdi menyimpan kekhawatiran akan potensi pembalasan, terutama setelah gelombang kekerasan sektarian yang melanda berbagai wilayah Suriah pada 2025.
Kesepakatan ini, yang difasilitasi dengan dukungan internasional, dianggap sebagai terobosan krusial untuk menyatukan kembali Suriah pasca-perang saudara berkepanjangan. Meski demikian, keberhasilan jangka panjangnya akan bergantung pada implementasi yang inklusif, menjaga hak-hak semua kelompok etnis, serta mencegah munculnya ketegangan baru di wilayah yang sensitif ini.
Pewarta : Setiawan Wibisono

