RI News Portal. Jakarta – Perjanjian pengendalian senjata nuklir bilateral terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia akan resmi berakhir dalam waktu dekat, menandai berakhirnya lebih dari lima dekade pembatasan jumlah hulu ledak nuklir yang ditempatkan secara operasional oleh dua negara dengan arsenal terbesar di dunia. Hilangnya batasan yang selama ini diatur dalam Perjanjian New START membuka kemungkinan baru bagi peningkatan cepat dan tidak terkendali dari kekuatan nuklir strategis kedua negara.
Para analis keamanan internasional memandang momen ini sebagai titik kritis yang berpotensi memicu dinamika perlombaan senjata nuklir tiga arah—melibatkan Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok—yang belum pernah terjadi sejak puncak Perang Dingin. Berbeda dengan periode sebelumnya, kali ini tidak hanya dua kekuatan besar yang bersaing, melainkan tiga negara dengan kapasitas dan ambisi strategis yang terus berkembang.
Moskow telah menyatakan kesediaan untuk secara sukarela mempertahankan batas-batas New START selama satu tahun tambahan sebagai jembatan menuju kesepakatan baru, dengan syarat Washington juga menunjukkan komitmen serupa. Namun, sikap pihak Amerika Serikat hingga kini masih terlihat ragu-ragu. Pemerintahan di Washington menegaskan bahwa keputusan akhir akan diambil berdasarkan pertimbangan waktu dan prioritas nasional sendiri, sambil tetap menginginkan keterlibatan Tiongkok dalam kerangka pengendalian senjata masa depan—sesuatu yang hingga saat ini ditolak tegas oleh Beijing.

Di sisi lain, Rusia menegaskan akan mengambil langkah-langkah yang “seimbang dan bertanggung jawab” berdasarkan evaluasi ancaman keamanan aktual. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pembicaraan tingkat tinggi antara pemimpin Rusia dan Tiongkok membahas implikasi berakhirnya perjanjian tersebut.
Para pakar pengendalian senjata mengkhawatirkan bahwa tanpa instrumen verifikasi dan pembatasan yang mengikat, kedua belah pihak—dan berpotensi juga aktor ketiga—akan memiliki insentif kuat untuk menambah jumlah hulu ledak yang siap diluncurkan. Kondisi ini dapat menciptakan lingkaran setan: peningkatan persenjataan satu pihak memicu respons serupa dari pihak lain, baik untuk menjaga kredibilitas deterensi maupun untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih kuat di masa depan.
Situasi semakin diperumit oleh perkembangan doktrin militer dan teknologi terbaru. Rusia telah merevisi doktrin nuklirnya pada tahun lalu, menurunkan ambang penggunaan senjata nuklir dalam skenario tertentu. Di saat yang sama, rencana pembangunan sistem pertahanan rudal canggih oleh Amerika Serikat—yang disebut-sebut dapat mengubah keseimbangan antara serangan dan pertahanan—telah memicu respons berupa pengembangan senjata ofensif baru yang sulit dicegat.
Baca juga : Diplomasi di Ujung Jurang: Perundingan Nuklir Iran-AS di Oman Menguji Batas Kesabaran dan Kompromi
Ketiadaan mekanisme inspeksi bersama yang efektif semakin memperburuk ketidakpastian. Inspeksi lapangan yang menjadi pilar utama verifikasi New START telah terhenti sejak masa pandemi dan tidak pernah kembali normal, bahkan sebelum penangguhan partisipasi Rusia pada awal 2023.
Para pengamat menilai, tanpa adanya payung hukum yang jelas, dunia memasuki fase di mana keputusan strategis akan lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi ancaman, kemampuan teknologi, dan dinamika politik domestik ketimbang kesepakatan bersama. Risiko salah perhitungan, eskalasi tidak terkendali, serta munculnya kembali uji coba nuklir—baik secara terbuka maupun terselubung—semakin nyata.
Sementara seruan agar perjanjian tersebut tidak ditinggalkan begitu saja terus bergema dari berbagai kalangan, termasuk pemimpin moral dan keagamaan global, realitas geopolitik saat ini menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan pengganti masih sangat panjang dan penuh hambatan.
Bagi banyak pengamat, berakhirnya era New START bukan sekadar penutupan satu bab perjanjian, melainkan pembukaan babak baru dalam sejarah keamanan nuklir global—babak yang ditandai oleh ketidakpastian yang lebih tinggi, persaingan yang lebih kompleks, dan risiko yang lebih besar dibandingkan dekade-dekade sebelumnya.
Pewarta : Anjar Bramantyo

