RI News Portal. KYIV, Ukraine — Delegasi Rusia dan Ukraina kembali bertemu dalam putaran pembicaraan damai yang difasilitasi Amerika Serikat, tepat di tengah eskalasi kekerasan di medan perang yang telah memasuki tahun keempat. Pertemuan dua hari ini, yang berlangsung pada Rabu dan Kamis, melibatkan utusan khusus AS Steve Witkoff serta Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, bersama Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Rustem Umerov sebagai perwakilan Kyiv.
Umerov menggambarkan hari pertama diskusi sebagai “substansial dan produktif”, dengan penekanan pada langkah-langkah konkret serta solusi praktis yang dapat diterapkan di lapangan. Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform media sosialnya pasca-sesi pembukaan, menandakan adanya ruang dialog meski tantangan tetap besar.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menekankan bahwa meskipun kemajuan signifikan telah dicapai dalam negosiasi selama setahun terakhir di bawah pemerintahan Trump, terobosan besar belum terlihat. “Ini kabar baiknya,” ujar Rubio kepada wartawan. “Kabar buruknya, isu-isu yang tersisa justru yang paling pelik, sementara perang masih berlangsung tanpa henti.”

Dari sisi Moskow, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov memilih sikap hati-hati dengan tidak mengungkap detail pembicaraan. Ia hanya menyatakan bahwa “pintu penyelesaian damai tetap terbuka”, namun menegaskan bahwa operasi militer Rusia akan terus berjalan hingga tuntutan Moskow dipenuhi oleh Kyiv.
Pertemuan ini berlangsung bersamaan dengan serangkaian serangan Rusia yang menimbulkan korban sipil tinggi. Pada hari yang sama, serangan menggunakan bom cluster menghantam pasar ramai di Druzhkivka, wilayah Donetsk timur, menewaskan tujuh orang dan melukai 15 lainnya, menurut pejabat setempat Vadym Filashkin. Serangan ini semakin memperkeruh suasana harapan atas kemajuan diplomatik, dengan Filashkin menyebut janji gencatan senjata dari Rusia sebagai “tidak berarti”.
Sebelumnya, Rusia melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur energi Ukraina, melibatkan ratusan drone dan puluhan rudal balistik—rekor tertinggi dalam periode terkini. Serangan tersebut menyebabkan pemadaman listrik luas di Kyiv dan wilayah lain, di saat suhu merosot hingga mendekati minus 20 derajat Celsius, salah satu musim dingin terdingin dalam beberapa tahun terakhir. Lebih dari 1.100 gedung apartemen di ibu kota masih tanpa pemanas, sementara ratusan tim perbaikan bekerja tanpa lelah meski kelelahan.
Baca juga : NATO Siap Kerahkan Pasukan Sekutu ke Ukraina Pasca-Kesepakatan Damai dengan Rusia
Kemarahan masyarakat Ukraina semakin memuncak atas pola serangan musiman ini sejak invasi Rusia pada Februari 2022. Meski Presiden Trump menyatakan bahwa Putin telah menepati janji penghentian sementara serangan energi selama seminggu hingga awal Februari, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyoroti bahwa serangan kembali terjadi hanya setelah empat hari, menunjukkan perbedaan pemahaman atas kesepakatan tersebut. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut Trump “tidak terkejut” dengan kelanjutan serangan Moskow.

Analis dari Institute for the Study of War menilai pola ini sebagai bagian strategi negosiasi Kremlin: menggambarkan kepatuhan sementara sebagai konsesi besar, sementara mempersiapkan serangan lebih masif di belakang layar. Serangan drone lanjutan malam itu—105 unit diluncurkan, dengan 88 berhasil dicegat—dan korban jiwa di wilayah Dnipropetrovsk serta Odesa semakin menegaskan bahwa jarak antara meja perundingan dan realitas medan perang masih sangat lebar.
Pertemuan di Abu Dhabi ini merupakan kelanjutan dari putaran sebelumnya di tempat yang sama, yang menghasilkan kemajuan terbatas namun belum menyentuh isu kunci seperti status wilayah timur Ukraina dan jaminan keamanan. Di tengah berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Rusia dan AS, tekanan untuk mencapai formula damai semakin mendesak, meski realitas di lapangan terus menguji ketahanan diplomasi.
Pewarta : Setiawan Wibisono

