RI News Portal. Bogor, Jawa Barat – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan penghormatan terakhir kepada Meriyati Hoegeng, yang akrab disapa Eyang Meri, istri mendiang Kapolri ke-5 Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat di Taman Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giritama, Tonjong, Kabupaten Bogor, pada hari Rabu ini.
Eyang Meri, yang telah mencapai usia 100 tahun sebelum wafat, dikenal sebagai sosok yang senantiasa menyertai perjuangan suaminya dalam menjaga integritas institusi kepolisian. Kehadiran Kapolri Sigit di lokasi pemakaman tidak hanya sebagai bentuk penghormatan, melainkan juga momentum untuk mengenang pesan-pesan mendalam yang kerap disampaikan almarhumah kepada keluarga besar Polri.
Dalam kesempatan usai prosesi, Jenderal Sigit mengungkapkan bahwa Eyang Meri selalu menekankan pentingnya menjadi polisi yang baik, berintegritas tinggi, serta mampu melindungi dan mengayomi masyarakat. Pesan tersebut, menurutnya, bukan sekadar nasihat biasa, melainkan menjadi sumber inspirasi dan semangat bagi seluruh personel Korps Bhayangkara.

“Beliau selalu berpesan di setiap pertemuan kami: jadilah polisi yang baik, memiliki integritas, dan polisi yang bisa melindungi serta mengayomi,” ujar Sigit dengan nada penuh haru.
Lebih lanjut, Sigit menceritakan pengalaman mendengar langsung rekaman suara Eyang Meri yang diputar oleh keluarga saat melayat. Dalam rekaman tersebut, almarhumah menitipkan wasiat agar setiap anggota Polri menjadi teladan, dimulai dari diri sendiri. Pesan itu semakin menguatkan komitmen institusi untuk menjaga amanah tersebut.
“Saya kira hal-hal tersebut tentunya menjadi spirit bagi kami keluarga besar Polri. Karena pesan terakhir beliau: tolong jaga, titip institusi Polri, tolong jaga dan titip Polri,” tambahnya.
Kapolri menegaskan bahwa wasiat Eyang Meri memiliki makna yang sangat dalam bagi tugas pokok Polri ke depan. Institusi harus terus meneladani nilai-nilai keteladanan, memberikan perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat, serta menjaga ketentraman dan kesejahteraan umum—sejalan dengan doktrin “tata tentrem kerta rahardja”.
Baca juga : Tabrak Lari dalam Kecelakaan Beruntun di Wonogiri: Satu Korban Luka, Polisi Buru Pelaku yang Kabur
Acara pemakaman juga menjadi pengingat akan warisan Jenderal Hoegeng Iman Santoso, yang dikenal sebagai figur polisi paling jujur dan berintegritas dalam sejarah Polri. Eyang Meri, melalui keteguhan dan dukungannya selama puluhan tahun, telah turut mewariskan api semangat tersebut.
“Selamat jalan Eyang Meri. Kami terima kasih atas apa yang telah beliau berikan kepada kami. Warisan daripada pendahulu, utamanya Almarhum Hoegeng Iman Santoso, yang tentunya akan terus menjadi api yang menggelora di seluruh keluarga besar Polri untuk menjaga wasiat dan warisan tersebut,” tutup Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Kepergian Eyang Meri meninggalkan duka mendalam, namun juga meninggalkan amanah yang terus hidup: menjaga Polri sebagai institusi yang bersih, kuat, dan selalu berpihak kepada rakyat.
Pewarta: Nandang Bramantyo

