RI News Portal. Jakarta – Kementerian Perdagangan menggulirkan serangkaian program strategis untuk mengokohkan posisi perdagangan nasional di tengah gejolak ekonomi global yang semakin kompleks. Langkah ini diambil guna menjaga keseimbangan antara penguatan pasar dalam negeri dan ekspansi ke pasar internasional, sekaligus memberdayakan pelaku usaha skala kecil hingga menengah.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan bahwa dinamika perdagangan saat ini menuntut respons cepat dan terarah. Tantangan di pasar luar negeri semakin meningkat akibat berbagai eskalasi, sementara di dalam negeri diperlukan upaya keras untuk meningkatkan daya saing produk lokal agar mampu mengisi kebutuhan pasar domestik dan sekaligus menjadi modal ekspor.
“Kita tidak bisa hanya bertahan, tapi harus proaktif. Penguatan perdagangan harus dilakukan secara simultan di dua front: domestik dan eksternal,” ujar Budi Santoso dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.

Di sektor pasar dalam negeri, prioritas utama diarahkan pada peningkatan daya saing produk lokal agar dapat mendominasi pangsa pasar dan mengurangi ketergantungan pada barang impor. Kemendag memfasilitasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk masuk ke jaringan ritel modern melalui serangkaian penjajakan bisnis dan kemitraan. Hasilnya cukup menggembirakan: saat ini sekitar 80 persen produk di ritel modern telah diisi oleh barang produksi UMKM, menandakan peningkatan kompetitivitas yang signifikan.
Selain itu, berbagai kampanye konsumsi produk dalam negeri terus digalakkan. Sepanjang tahun 2025, tiga program belanja besar mencatatkan kinerja impresif. Program Every Purchase Is Cheap (EPIC) Sale berhasil mencatat transaksi mendekati Rp55 triliun. Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) menyumbang Rp36,4 triliun, sementara Belanja di Indonesia Aja (BINA) Great Sale Indonesia 2025 mencapai Rp31 triliun. Angka-angka ini mencerminkan antusiasme masyarakat dalam mendukung produk lokal melalui belanja terstruktur.
Di kancah perdagangan luar negeri, fokus utama tertuju pada perluasan akses pasar melalui penyelesaian perjanjian dagang bilateral dan regional. Tahun 2025 menjadi tahun produktif dengan keberhasilan menyelesaikan lima perjanjian penting: Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA), Indonesia-Canada CEPA, Indonesia-Peru CEPA, Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia-EAEU FTA), serta Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement (PTA). Secara kumulatif, Indonesia kini telah mengimplementasikan 20 perjanjian dagang, dengan 15 lainnya dalam tahap ratifikasi dan 11 masih dalam perundingan.
Baca juga : Gubernur Jatim Khofifah Dijadwalkan Bersaksi di Sidang Korupsi Dana Hibah Provinsi
Untuk mendorong ekspor dari pelaku usaha kecil dan menengah, Kemendag memanfaatkan jaringan 46 perwakilan perdagangan di 33 negara. Program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor menjadi instrumen kunci, dengan kegiatan business matching yang diikuti 1.217 pelaku usaha sepanjang 2025. Total transaksi yang dihasilkan mencapai 134,87 juta dolar AS.
“Kami ingin ekspor bukan lagi monopoli perusahaan besar. Pelaku usaha menengah dan kecil harus memiliki kesempatan yang sama untuk go international,” tegas Budi Santoso.
Dengan pendekatan yang terintegrasi ini, Kemendag berupaya menjadikan perdagangan nasional lebih resilien, inklusif, dan berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
Pewarta : Yogi Hilmawan

