RI News Portal. Jakarta – Wakil Ketua Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN RI), Ir. Ferry Firmawan, Ph.D., menyoroti dampak mendalam dari gejolak terkini di pasar modal terhadap psikologi investor ritel. Menurutnya, setiap pergeseran kepemimpinan di otoritas bursa tidak hanya menimbulkan ketidakpastian institusional, tetapi juga memicu efek emosional yang signifikan bagi jutaan pemodal individu yang kini semakin aktif berpartisipasi.
Data terkini dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan lonjakan partisipasi investor ritel, terutama dari kalangan kelas menengah. Instrumen saham telah bertransformasi menjadi pilihan investasi jangka panjang yang diminati, bukan sekadar spekulasi jangka pendek. Namun, di tengah tren positif ini, fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tajam—termasuk penurunan signifikan di awal Februari 2026—menjadi ujian nyata bagi kestabilan mental para investor.
“Dalam situasi seperti ini, setiap dinamika internal otoritas bursa atau pergerakan indeks memiliki pengaruh psikologis yang sangat riil terhadap konsumen. Jika penurunan indeks tidak diimbangi dengan komunikasi publik yang transparan dan tepat waktu, hal itu berpotensi memicu reaksi panik, keputusan investasi impulsif, serta kerugian yang sebenarnya bisa dihindari oleh investor itu sendiri,” ungkap Ferry Firmawan dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Ferry menekankan penghormatan terhadap segala keputusan institusional yang diambil sesuai mekanisme tata kelola yang berlaku. Mundurnya sejumlah pimpinan bursa baru-baru ini, yang diikuti penunjukan pejabat sementara, seyogyanya dijadikan momen strategis untuk membangun kembali kepercayaan publik secara lebih kokoh. Ia menambahkan bahwa fluktuasi pasar saat ini tidak lepas dari kombinasi faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global dan ketegangan geopolitik, serta elemen domestik yang saling berkaitan.
“Penurunan IHSG adalah fenomena alamiah yang melekat pada karakter pasar modal. Ini bukan indikasi kegagalan sistem keuangan nasional secara keseluruhan, melainkan cerminan interaksi berbagai variabel. Masyarakat perlu memahami bahwa volatilitas adalah bagian inheren dari investasi saham, bukan sinyal kehancuran,” tegasnya.
Dalam konteks perlindungan konsumen, BPKN RI memberikan perhatian khusus terhadap perlakuan yang adil bagi investor ritel di tengah kondisi pasar yang menantang. Ferry menegaskan hak dasar konsumen untuk memperoleh informasi yang akurat, jelas, dan bebas dari unsur menyesatkan. Ia juga menekankan urgensi penguatan literasi keuangan secara berkelanjutan sebagai bentuk perlindungan preventif.
Baca juga : BPKN Desak Penegakan Hukum Tegas: Praktik “Goreng Saham” Ancam Fondasi Pasar Modal Indonesia
“Literasi keuangan bukan sekadar program sesaat, melainkan agenda nasional jangka panjang. Perlindungan konsumen yang efektif tidak hanya bergantung pada regulasi dan pengawasan ketat, tetapi juga pada peningkatan kapasitas individu agar lebih resilien menghadapi gejolak pasar,” tambah Ferry.
BPKN RI berkomitmen mendorong kolaborasi antarlembaga guna mewujudkan pasar modal yang lebih adil dan transparan. Transparansi informasi menjadi elemen krusial untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi masyarakat sebagai subjek utama dalam ekosistem pasar nasional.
Dengan menjaga kepercayaan investor ritel, lanjut Ferry, Indonesia turut memperkuat fondasi stabilitas perekonomian jangka panjang. BPKN akan terus mengoptimalkan peran edukasinya agar konsumen jasa keuangan tidak lagi menjadi pihak yang rentan dieksploitasi oleh dinamika pasar yang fluktuatif.
Pewarta : Vie

