RI News Portal. Quetta, Pakistan – Provinsi Balochistan kembali menjadi pusat kekerasan berdarah pada akhir Januari 2026, ketika serangan terkoordinasi oleh kelompok separatis Baloch Liberation Army (BLA) melanda berbagai lokasi di wilayah barat daya Pakistan. Dalam satu hari yang dinilai paling mematikan bagi militan dalam beberapa dekade terakhir, setidaknya 33 orang tewas—termasuk 18 warga sipil dan 15 personel keamanan—sementara pasukan keamanan melaporkan berhasil menewaskan 92 penyerang.
Serangan ini mencakup aksi bunuh diri, penembakan massal, dan upaya penyerbuan terhadap target strategis seperti penjara keamanan tinggi di Mastung, markas paramiliter di Nushki, serta pos-pos polisi dan instalasi pemerintah di beberapa distrik termasuk Quetta, Dalbandin, Pasni, dan Gwadar. Para penyerang juga merampok beberapa bank, membakar puluhan kendaraan, dan membebaskan lebih dari 30 tahanan dari fasilitas pemasyarakatan. Video yang dirilis BLA menampilkan pejuang wanita ikut serta, sebuah elemen propaganda yang semakin menonjol untuk menekankan peran gender dalam perjuangan mereka.
Pihak militer Pakistan menyebut serangan ini sebagai respons balasan atas operasi keamanan sebelumnya yang menewaskan puluhan militan di wilayah barat daya. Dalam 48 jam terakhir, otoritas mengklaim telah menewaskan sedikitnya 133 militan di seluruh provinsi. Pejabat tinggi, termasuk Menteri Dalam Negeri, menuding adanya dukungan eksternal dari India terhadap para penyerang—tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh New Delhi.

Dari perspektif akademis, insiden ini mencerminkan evolusi signifikan dalam strategi BLA. Kelompok yang dilarang di Pakistan dan ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat ini telah beralih dari serangan gerilya sporadis menjadi operasi terkoordinasi berskala besar, melibatkan elemen bunuh diri (melalui sayap Majeed Brigade), propaganda visual, dan target campuran sipil-militer. Eskalasi ini sejalan dengan pola yang terlihat sepanjang 2025, di mana BLA dan faksi-faksinya—termasuk aliansi Baloch Raaji Aajoi Sangar (BRAS)—melancarkan serangan berani seperti pembajakan kereta Jaffar Express pada Maret 2025 yang menewaskan puluhan orang dan menyandera ratusan penumpang.
Insurgensi Baloch, yang telah berlangsung selama beberapa dekade, berakar pada tuntutan otonomi politik, kontrol atas sumber daya alam provinsi yang kaya mineral, serta keluhan atas marginalisasi ekonomi dan pelanggaran hak asasi manusia oleh aparat pusat. Balochistan, provinsi terluas namun termiskin di Pakistan, sering digambarkan sebagai wilayah yang dieksploitasi tanpa manfaat berarti bagi penduduk lokalnya. Serangan terhadap proyek-proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) dan pekerja asing semakin memperumit dinamika, karena Beijing menjadi target utama akibat persepsi imperialisme ekonomi.
Para pengamat keamanan menilai hari itu sebagai indikator bahwa pendekatan militeristik semata tidak cukup meredam pemberontakan. Meskipun pasukan keamanan melaporkan ratusan militan tewas dalam setahun terakhir, intensitas dan kecanggihan serangan justru meningkat. Kerusakan rel kereta api yang menyebabkan penghentian layanan lintas provinsi, serta deklarasi darurat di rumah sakit, menunjukkan dampak luas terhadap infrastruktur dan kehidupan sipil.
Konflik ini juga memiliki dimensi regional yang semakin jelas. Pakistan kerap menuding Afghanistan sebagai tempat persembunyian militan, sementara Kabul membantah. Tuduhan keterlibatan India menambah ketegangan geopolitik di Asia Selatan, di tengah persaingan pengaruh yang lebih luas.

Di tengah kekerasan berulang, pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah solusi militer dapat menyelesaikan akar masalah, atau justru memperburuk siklus balas dendam dan radikalisasi? Tanpa pendekatan politik inklusif yang menangani keluhan historis masyarakat Baloch, Balochistan berisiko terus menjadi ladang konflik yang merugikan stabilitas nasional dan regional Pakistan.
Pewarta : Anjar Bramantyo

