RI News Portal. Pemalang – Tiga hari pasca banjir bandang menerjang, Kecamatan Pulosari di lereng Gunung Slamet masih bergulat dengan keadaan darurat. Bencana yang melanda sejak Jumat sore (23/1/2026) itu telah mengubah lanskap tiga desa utama—Penakir, Nyalembeng, dan Gunungsari—menjadi medan lumpur dan puing. Akses transportasi terputus total oleh enam jembatan yang hanyut, mengisolasi sejumlah wilayah dan memperumit distribusi bantuan.
Data terbaru menunjukkan skala kerusakan yang parah: puluhan rumah rusak berat hingga musnah diterjang arus, memaksa sekitar 2.300 jiwa mengungsi. Titik-titik pengungsian yang tersebar kini menjadi rumah sementara bagi mereka, dengan kebutuhan mendesak akan pasokan makanan, air bersih, obat-obatan, dan dukungan psikososial.
Di tengah keprihatinan tersebut, Bupati Pemalang menegaskan komitmennya saat langsung meninjau lokasi terdampak terparah pada Selasa (27/1/2026). “Fokus kami tidak bergeser: evakuasi total dan jaminan kebutuhan dasar. Jembatan darurat sedang kami kejar pembangunannya untuk membuka akses isolasi,” tegasnya di tengah reruntuhan.

Namun, upaya pemulihan tidak berjalan tanpa ancaman. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengingatkan bahwa cuaca ekstrem di kawasan Gunung Slamet belum sepenuhnya mereda. “Curah hujan masih berpotensi tinggi. Kami mempertahankan posko siaga dan patroli intensif. Masyarakat di zona rawan harus tetap siaga dan melaporkan setiap perubahan kondisi sungai,” imbaunya.
Di lapangan, sinergi tampak dalam kerja keras tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, dan relawan dari berbagai organisasi. Mereka bahu-membahu melakukan evakuasi, pendistribusian logistik, dan assesment kerusakan. Pemerintah daerah telah menyiapkan skema rehabilitasi dan rekonstruksi jangka menengah, yang akan segera dijalankan setelah fase tanggap darurat berakhir dan kondisi dinyatakan stabil.
Baca juga : Ladang Merah Arai untuk Indonesia: Bhabinkamtibmas dan Petani Wujudkan Ketahanan Pangan Prabowo
Bencana di Pulosari kembali menyoroti kerentanan kawasan lereng terhadap perubahan iklim, menuntut refleksi mendalam tentang mitigasi berbasis ekosistem dan ketangguhan komunitas di daerah pegunungan.
Pewarta: Ikhwanudin

