RI News Portal. Solo, 27 Januari 2026 – Tingalan Jumenengan keempat K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X di Pura Mangkunegaran pada Selasa (27/1) menjadi lebih dari sekadar peringatan ritual. Momentum ini dijadikan sang penguasa sebagai ruang refleksi filosofis yang mendalam, menandai penutup tahun keempat dan pembuka tahun kelima kepimpinannya sejak 2022, dengan menekankan tiga pilar utama: kebahagiaan sebagai laku, kesadaran diri, dan kebersamaan.
Dalam sabda dalem yang disampaikan di hadapan sekitar 800 tamu undangan di Pendopo Ageng, Mangkunegara X membongkar konsep kebahagiaan yang kerap disalahartikan. “Kita percaya bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang dikejar dengan tergesa, melainkan dijalani sebagai suatu laku,” tegasnya. Pernyataan ini menjadi landasan pidatonya yang mengajak hadirin memaknai hidup bukan sekadar mengejar pencapaian materi atau jabatan.
Raja Mangkunegaran ke-10 itu menjelaskan, kebahagiaan yang sejati bersumber dari kesadaran holistik—terhadap diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan. “Dari kesadaran yang hidup, terpancar totokromo, sikap hormat, andap asor, dan keramahan,” ujarnya. Menurutnya, kesadaran inilah yang membentuk manusia eling lan waskito (ingat dan waspada), sehingga mampu menyelaraskan budi, rasa, dan tindakan dalam kerangka tanggung jawab.

Lebih jauh, Mangkunegara X menyentuh aspek tujuan hidup yang kerap menjebak dalam kelelahan tanpa makna. Ia menegaskan pentingnya tidak hanya memahami arah tujuan, tetapi juga menjalaninya dengan cara yang benar, konsisten, dan penuh ketekunan. “Tujuan harus dipahami arahnya, dilangkahkan secara konsisten, serta dijalani dengan ketekunan agar tidak berujung pada kelelahan tanpa makna,” pesannya.
Refleksi kepemimpinan ini juga diarahkan pada makna kelembagaan Mangkunegaran itu sendiri. Sang penguasa berharap kompleks bersejarah itu tidak sekadar dipandang sebagai artefak fisik, melainkan tumbuh sebagai “rumah bersama” yang menghidupkan nilai-nilai kekeluargaan dan identitas. “Semoga Mangkunegaran bukan hanya sebagai wadah fisik, namun menjadi tempat yang mana kita bisa merasakan apa arti rumah itu sesungguhnya,” harapnya.
Rangkaian acara Tingalan Jumenengan tahun ini berlangsung khidmat dan meriah, melibatkan tidak hanya tamu undangan tetapi juga sekitar 1.000 masyarakat dari kalangan pelajar, komunitas, dan warga sekitar. Prosesi adat menjadi pembuka, dilanjutkan dengan pertunjukan sakral Beksan Bedhaya Anglir Mendhung dan iringan klenengan gamelan. Puncak acara diisi dengan penganugerahan serat kekancingan (surat pengangkatan) dan pemberian apresiasi kepada para abdi dalem yang setia mengabdi.
Perayaan ini menegaskan bahwa kepemimpinan Mangkunegoro X tidak hanya berorientasi pada pelestarian tradisi, tetapi juga pada reinterpretasi nilai-nilai klasik Jawa menjadi pedoman hidup yang relevan bagi masyarakat kontemporer. Fokus pada “laku kebahagiaan” dan pembangunan “rumah bersama” menandai arah tahun kelima kepemimpinannya: membangun ketahanan sosial melalui pendekatan yang humanis dan berbasis kesadaran kolektif.
Pewarta : Rendro P

