RI News Portal. Brebes – Enam hari setelah Sumyati, perempuan berusia 49 tahun warga Dukuh Makamdawa, Desa Galuh Timur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, menghilang di kawasan perbukitan dan hutan lindung setempat, operasi pencarian gabungan yang melibatkan ratusan personel masih belum membuahkan hasil. Hingga Jumat petang, 23 Januari 2026, jejak korban seakan lenyap ditelan lebatnya vegetasi dan kontur ekstrem Bukit Ipik serta lembah-lembah di sekitarnya.
Sumyati terakhir kali terlihat pada Minggu, 18 Januari 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Saksi mata bernama Sulis mengaku masih melihatnya berjalan sendirian menuju arah Bukit Ipik, kawasan yang dikenal memiliki tanjakan curam, semak belukar tinggi, serta jurang-jurang tersembunyi. Sebelum itu, dua saksi lain – Sunaryo dan Abu Syaeri – juga menyaksikan korban berjalan ke arah barat menuju Gubug Perhutani, pintu masuk utama kawasan hutan, sejak pukul 11.30 WIB.
“Dari pagi sekitar jam setengah sepuluh dia keluar rumah, katanya mau ke hutan. Kami pikir hanya sebentar, seperti biasa kalau mencari kayu atau rumput. Tapi sampai malam tidak pulang,” ungkap Samiyo, suami korban, dengan suara bergetar saat ditemui di posko pencarian, Jumat siang.

Ciri-ciri fisik Sumyati yang disebarkan luas kepada masyarakat – tubuh kurus langsing, rambut lurus sepinggang, kulit sawo matang, mengenakan kaos oblong abu-abu dan celana panjang hijau tua – menjadi satu-satunya petunjuk yang kini dipegang erat oleh tim SAR gabungan.
Medan yang dihadapi tim pencari memang tidak biasa. Hutan Galuh Timur bukan sekadar area hijau biasa; ia merupakan perpaduan antara hutan produksi Perhutani, lahan pertanian warga, dan kawasan perbukitan karst dengan banyak gua dan ceruk alami. Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir turut memperburuk kondisi: tanah licin, kabut tebal di ketinggian, serta aliran sungai kecil yang menggelembung.
“Kami membagi menjadi lima sektor pencarian, termasuk menyisir hulu sungai dan tebing-tebing curam yang sulit dijangkau. Ada kekhawatiran korban terjatuh atau tersesat karena kabut yang sangat pekat di atas ketinggian 400 meter,” jelas Koordinator Lapangan Tim SAR Gabungan Kabupaten Brebes, Suhadi, saat memimpin apel sore hari keenam.
Meskipun terkendala cuaca dan medan ekstrem, semangat solidaritas warga Desa Galuh Timur justru semakin menggelora. Ratusan warga secara bergotong-royong terus berdatangan membawa perbekalan, senter, dan bahkan anjing pelacak milik pribadi. Beberapa di antara mereka adalah tetangga yang pernah menemani Sumyati mencari kayu di masa lalu, sehingga mengenal betul setiap lorong dan celah hutan.
Baca juga : Polda Jateng Bongkar Sindikat Oplosan LPG Subsidi, Ribuan Tabung Disita Jelang Ramadan
“Kami tidak akan menyerah. Bu Sumyati orang baik, sering membantu tetangga. Kalau bukan karena kita yang cari, siapa lagi?” ujar Kasdi, salah seorang relawan warga yang sudah enam hari tidak pulang ke rumah.
Malam menjelang, posko darurat di balai desa masih ramai. Lampu-lampu senter dan suara doa bersama menggema hingga larut. Keluarga besar Sumyati, termasuk anak dan cucunya, tetap bertahan di posko dengan harapan yang semakin tipis namun belum padam.
Pencarian akan dilanjutkan kembali pada Sabtu pagi, 24 Januari 2026, dengan memperluas radius hingga ke wilayah perbatasan Kecamatan Salem dan Bantarkawung, serta melibatkan unit drone termal dari BPBD Provinsi Jawa Tengah yang baru tiba sore ini.
Di tengah dinginnya udara pegunungan Brebes selatan, satu kalimat terus diucapkan berulang oleh semua yang terlibat: “Semoga besok adalah hari kita membawa Bu Sumyati pulang.”
Pewarta: Ikhwanudin

