RI News Portal. Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menetapkan target strategis untuk mengurangi porsi simpanan berbunga di atas tingkat bunga penjaminan (TBP) yang masih mencapai 33 persen per akhir Desember 2025. Langkah ini diambil guna memperkuat stabilitas sistem perbankan sekaligus mendorong penurunan biaya dana secara keseluruhan.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyatakan, pihaknya memiliki dua fokus utama. Pertama, secara aktif menekan proporsi nominal simpanan yang menawarkan imbal hasil melebihi TBP. Kedua, memperluas program edukasi dan literasi keuangan khususnya bagi kalangan usia produktif agar lebih memahami manfaat simpanan yang aman dan terjamin.
“Ada dua target yang kami lakukan. Pertama, menurunkan porsi nominal simpanan di atas TBP. Kedua, melakukan edukasi dan literasi untuk menarik nasabah usia produktif,” ujar Anggito dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/1/2026) malam.

Anggito menjelaskan, tren penurunan sempat terlihat pada November 2025, tetapi kembali meningkat di Desember karena strategi perbankan mempertahankan dana pihak ketiga (DPK) serta kecenderungan nasabah mencari imbal hasil lebih tinggi menjelang penutupan tahun. Ia menegaskan, LPS akan terus berkoordinasi dengan perbankan agar suku bunga simpanan lebih selaras dengan TBP yang berlaku.
Saat ini, TBP tetap pada level 3,50 persen untuk simpanan rupiah di bank umum, 6,00 persen untuk simpanan rupiah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR), serta 2,00 persen untuk simpanan valuta asing (valas) di bank umum. Keputusan mempertahankan angka-angka tersebut diambil dalam rapat Dewan Komisioner LPS pada 19 Januari 2026, dan berlaku mulai 1 Februari hingga 31 Mei 2026.
Penetapan TBP yang tidak berubah didasari tren penurunan suku bunga pasar (SBP) simpanan rupiah yang konsisten melandai, mencapai 3,14 persen pada observasi Januari 2026 (turun 5 basis poin). Sementara SBP simpanan valas turun lebih tajam 12 basis poin menjadi 2,79 persen. Kondisi ini mencerminkan likuiditas perbankan yang longgar dan kebijakan moneter yang tetap akomodatif.
Baca juga : Kado Tak Biasa untuk Megawati: HUT-79 PDIP Gerakkan Ribuan Kader Rawat Alam di Seluruh Nusantara
Anggito mengakui likuiditas perbankan saat ini melimpah, yang seharusnya menekan cost of fund. Namun, pertumbuhan kredit masih tertinggal di 9,63 persen (year-on-year) per Desember 2025, dibandingkan DPK yang tumbuh 13,83 persen. Penopang utama kredit berasal dari penyaluran kredit investasi, sementara transmisi penurunan suku bunga kebijakan ke suku bunga kredit belum optimal.
“Kenapa penyaluran kredit di bawah 10 persen? Pertama, suku bunga deposito turun, tetapi suku bunga kreditnya belum turun seperti yang diharapkan. Yang kedua, tentu transmisinya masih ada gangguan,” papar Anggito.
Ia juga menyoroti sisi permintaan yang belum kuat, terlihat dari tingginya undisbursed loan. Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Polis LPS Ferdinan D Purba menambahkan, LPS akan terus memantau perkembangan SBP dan berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk mendorong transmisi suku bunga yang lebih efektif.

Dari sisi perlindungan nasabah, tingkat cakupan penjaminan tetap terjaga tinggi. Per Desember 2025, 99,94 persen rekening nasabah bank umum (setara 665,05 juta rekening) seluruh simpanannya dijamin LPS. Pada BPR dan BPRS, angkanya mencapai 99,97 persen atau 15,67 juta rekening.
Dengan likuiditas yang longgar dan pertumbuhan simpanan positif, LPS optimistis kebijakan ini mendukung momentum pertumbuhan ekonomi domestik sambil menjaga stabilitas sistem keuangan. Upaya pengurangan simpanan berbunga tinggi diharapkan turut mempercepat penurunan biaya dana perbankan dan memperkuat intermediasi ke sektor riil.
Pewarta : Diki Eri

