RI News Portal. Kyiv, 22 Januari 2026 – Hampir empat tahun setelah invasi skala penuh Rusia dimulai, Ukraina kembali menghadapi salah satu musim dingin paling berat dalam sejarah perang modern. Serangkaian serangan udara intensif Rusia terhadap infrastruktur energi telah menyebabkan pemadaman listrik dan pemanas massal di ibu kota Kyiv dan sejumlah wilayah lain, di tengah suhu yang kerap turun hingga minus 18–20 derajat Celsius.
Presiden Volodymyr Zelenskyy melaporkan bahwa sekitar 4.000 bangunan di Kyiv masih tanpa pemanas hingga Rabu pagi, sementara hampir 60 persen wilayah ibu kota mengalami pemadaman listrik berkepanjangan. Ribuan rumah tangga terpaksa mengandalkan generator darurat, kompor gas untuk menghangatkan batu bata, atau bahkan mengumpulkan salju sebagai sumber air. Di beberapa apartemen bertingkat tinggi, warga tidur dengan mantel dan topi sambil menyalakan api kecil di dalam ruangan—upaya bertahan hidup yang mengingatkan pada krisis kemanusiaan di zona konflik berkepanjangan.
Serangan terbaru ini melibatkan ratusan drone jenis Shahed dan rudal balistik serta jelajah, yang menargetkan gardu induk, pembangkit listrik, dan jaringan transmisi. Dampaknya tidak hanya teknis: serangan tersebut secara sistematis melemahkan ketahanan sipil, memperburuk akses terhadap air bersih, layanan kesehatan, dan komunikasi. Para analis militer dan hak asasi manusia menilai pola ini sebagai strategi perang yang sengaja memanfaatkan kondisi musim dingin untuk menekan moral penduduk dan memaksa konsesi politik.

Di sisi lain, upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat terus berlangsung meski menghadapi tantangan serius. Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden Zelenskyy di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada hari Kamis, sementara utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner akan melanjutkan pembicaraan dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada hari yang sama. Diskusi difokuskan pada proposal perdamaian yang mencakup pengaturan wilayah, jaminan keamanan pascaperang, dan potensi penggunaan aset Rusia yang dibekukan di Barat untuk rekonstruksi wilayah yang rusak.
Namun, kemajuan terlihat mandek. Meskipun ada optimisme awal tentang “rencana kemakmuran” bernilai ratusan miliar dolar untuk Ukraina pascaperang, isu-isu seperti masa depan Greenland dan perbedaan posisi mendasar antara Kyiv dan Moskow membuat penandatanganan dokumen penting tertunda. Zelenskyy sempat menyatakan akan hadir di Davos hanya jika dokumen jaminan keamanan dan pemulihan ekonomi siap ditandatangani, namun akhirnya memprioritaskan pemulihan pasokan listrik di dalam negeri.
Baca juga : Eskalasi Mematikan Pasca-Gencatan Senjata: Gaza dan Lebanon Kembali Bergolak di Tengah Ketegangan Regional
Pemerintah Ukraina telah mengalokasikan dana cadangan sekitar 2,56 miliar hryvnia (setara hampir 60 juta dolar AS) untuk pengadaan generator tambahan. Perdana Menteri Yuliia Svyrydenko menekankan bahwa langkah ini bersifat darurat untuk menjaga fungsi dasar masyarakat. Di tingkat internasional, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mendesak para kepala militer negara anggota untuk segera menyediakan lebih banyak sistem pertahanan udara, khususnya pencegat rudal dan drone, guna melindungi infrastruktur sipil dari serangan berulang.
Sementara itu, serangan balasan Ukraina menggunakan drone jarak jauh terus mengganggu fasilitas militer dan energi di wilayah Rusia, meski skala dan dampaknya masih terbatas dibandingkan kerusakan yang dialami Ukraina. Di wilayah Dnipropetrovsk, serangan Rusia menewaskan dua warga lanjut usia, sementara di Adygea—jauh di dalam wilayah Rusia—drone Ukraina menyebabkan kebakaran apartemen yang melukai belasan orang, termasuk anak-anak.
Di tengah upaya diplomasi yang intens namun rapuh, krisis energi musim dingin ini menjadi pengingat pahit: tanpa perlindungan infrastruktur yang memadai, penduduk sipil tetap menjadi korban utama dari konflik berkepanjangan. Bagi jutaan warga Ukraina yang bertahan di tengah kegelapan dan dingin, harapan perdamaian harus diimbangi dengan dukungan konkret agar musim dingin ini tidak berubah menjadi bencana kemanusiaan yang lebih luas.
Pewarta : Anjar Bramantyo

