RI News Portal. Brebes – Keterbatasan ekonomi yang menyelimuti kehidupan sehari-hari, kisah kakak beradik Nurokhim (49) dan Musriah (44) di Desa Dukuhlo, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, menjadi potret nyata tantangan akses perumahan layak di pedesaan Jawa Tengah. Pada Rabu, 21 Januari 2026, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dinperwaskim) Kabupaten Brebes mengerahkan tim verifikator untuk memeriksa langsung kondisi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang mereka tempati. Langkah ini muncul sebagai respons cepat atas laporan masyarakat yang menyoroti hunian yang semakin tak memenuhi standar kelayakan.
Verifikasi lapangan ini bukan sekadar prosedur administratif, melainkan fondasi utama program bantuan RTLH yang menekankan prinsip keadilan dan partisipasi masyarakat. Subkoordinator Perumahan Swadaya Dinperwaskim Brebes, Irfanudin, menjelaskan bahwa timnya melakukan penilaian menyeluruh, mencakup aspek fisik bangunan hingga kelengkapan dokumen. “Tim kami telah turun langsung ke lapangan untuk memverifikasi kondisi rumah kakak beradik tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi. Proses ini menjadi gerbang awal penetapan penerima bantuan, dengan fokus pada status kepemilikan lahan yang sah—bukan tanah negara—serta kesiapan swadaya dari pemohon.
Swadaya, menurut Irfanudin, bukan beban tambahan, tapi esensi gotong royong yang melekat pada program ini. Bentuknya bisa berupa tenaga kerja, material bangunan, atau dukungan dari tetangga sekitar. “Rumah yang dibantu harus berdiri di lahan milik pribadi atau dikuasai secara sah. Penerima juga harus siap berswadaya dalam pembangunan,” tambahnya. Jika hasil verifikasi positif, usulan bantuan akan diajukan sesuai kuota yang tersedia, membuka peluang perbaikan bagi hunian yang rusak.

Latar belakang kondisi rumah ini menyedihkan. Bangunan berdinding bata merah itu pernah direhabilitasi melalui program RTLH beberapa tahun lalu, namun degradasi waktu membuatnya semakin rapuh. Tembok belakang ambruk, atap bocor, dan lantai tanah yang becek saat hujan deras, menciptakan lingkungan tak sehat. Air hujan merembes masuk, menggenangi ruangan dan menimbulkan risiko kesehatan bagi penghuni. Di dalam, ruang tidur dan kamar mandi menyatu tanpa sekat layak; Nurokhim tidur di dipan kayu lapuk, sementara Musriah berbaring di lantai dengan terpal sederhana.
Kehidupan mereka semakin berat dengan penghasilan tak menentu dari Nurokhim yang berjualan mainan anak-anak. “Kalau hujan, rumah sering bocor. Air masuk ke dalam, tembok dan atap di belakang juga sudah ambruk,” cerita Nurokhim saat ditemui pada Selasa, 20 Januari 2026. Saat badai datang, mereka harus memindahkan barang seadanya, sementara istirahat terganggu oleh kelembaban yang menusuk. Warga sekitar prihatin, khawatir bangunan rapuh ini runtuh saat angin kencang, mengancam keselamatan.
Baca juga : Amblasnya Jalur Vital: Hujan Deras Picu Krisis Akses di Pedesaan Tegal
Verifikasi ini tak hanya menjanjikan perbaikan fisik, tapi juga menggarisbawahi urgensi kebijakan perumahan inklusif di daerah pedesaan. Program RTLH, dengan semangat gotong royong, berpotensi mengubah nasib keluarga rentan seperti Nurokhim dan Musriah, menuju hunian aman, sehat, dan bermartabat. Harapan masyarakat kini tertuju pada hasil verifikasi, agar bantuan segera mengalir dan mengakhiri siklus ketidaklayakan yang berkepanjangan.
Pewarta: Ikhwanudin

