RI News Portal. Jakarta – Di tengah dinamika perubahan kepemimpinan di badan usaha milik negara, sosok Arman Depari menonjol sebagai contoh transisi karir dari sektor keamanan publik ke ranah korporasi. Pensiunan perwira tinggi Kepolisian Republik Indonesia ini, yang pernah memimpin upaya pemberantasan narkotika di tingkat nasional, kini mengemban tanggung jawab sebagai komisaris di PT Pelindo Multi Terminal, sebuah entitas yang mengelola operasional terminal multipelabuhan di Indonesia.
Dengan latar belakang yang kaya pengalaman dalam penegakan hukum, penunjukan Depari mencerminkan tren pemanfaatan keahlian mantan pejabat publik untuk memperkuat tata kelola perusahaan negara.
Arman Depari, yang lahir di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, pada 1 September 1962, merupakan putra daerah yang memulai perjalanan profesionalnya melalui jalur pendidikan militer. Berzodiak Virgo, ia menikah dengan Rien Herdiany Alfian dan dikenal sebagai sosok yang disiplin, sesuai dengan panggilan akrabnya, Arman. Pendidikannya dimulai di Akademi Kepolisian pada 1985, diikuti serangkaian pelatihan lanjutan seperti Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian pada 1996, Sekolah Staf dan Pimpinan Kepolisian pada 2000, serta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi pada 2009. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuannya tentang strategi keamanan, tetapi juga mempersiapkannya menghadapi tugas-tugas berisiko tinggi sepanjang karirnya di kepolisian.

Karir Depari di Kepolisian Republik Indonesia mencakup berbagai posisi strategis yang menuntut keberanian dan ketegasan. Ia memulai sebagai Komandan Detasemen Sabhara di Direktorat Samapta Polda Metro Jaya, kemudian naik pangkat menjadi Kepala Kepolisian Resor Langkat pada 2002. Posisi kunci lainnya termasuk Direktur Tindak Pidana Narkoba di Badan Reserse Kriminal Polri pada 2009, dan Kapolda Kepulauan Riau pada 2014. Puncak dedikasinya terlihat saat menjabat sebagai Deputi Pemberantasan di Badan Narkotika Nasional dari 2016 hingga 2020, di mana ia memimpin operasi-operasi besar melawan sindikat narkoba lintas batas. Sebagai jenderal bintang dua dengan pangkat Inspektur Jenderal, Depari pensiun pada 2020 setelah lebih dari tiga dekade berkontribusi pada keamanan nasional.
Pasca-pensiun, Depari dipercaya oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir untuk bergabung dengan PT Pelindo Multi Terminal sebagai komisaris independen. Penunjukan ini efektif sejak 1 Oktober 2021 dan dijadwalkan berlangsung hingga 2026. Peran ini melibatkan pengawasan strategis atas operasional perusahaan, yang mencakup pengelolaan terminal nonpetikemas di berbagai pelabuhan Indonesia. Transisi ini menarik perhatian karena menggabungkan pengalaman Depari dalam manajemen risiko dan pemberantasan kejahatan terorganisir dengan kebutuhan BUMN untuk memperkuat integritas dan efisiensi operasional.
Baca juga : Mengungkap Waktu Kematian Pendaki Gunung Slamet: Koreksi Medis atas Estimasi Awal
Dari segi kompensasi, laporan tahunan PT Pelindo Multi Terminal untuk 2024 mencatat bahwa Depari menerima total remunerasi senilai lebih dari tiga miliar rupiah. Rinciannya mencakup gaji bulanan sekitar sembilan puluh enam juta rupiah, tunjangan bulanan hampir dua puluh juta rupiah, tunjangan hari raya setara gaji satu bulan, asuransi purna jabatan hampir tiga ratus juta rupiah, serta tantiem yang mendominasi porsi tersebut dengan nilai lebih dari satu miliar empat ratus juta rupiah. Paket remunerasi ini mencerminkan standar kompensasi untuk posisi pengawas di perusahaan negara skala besar, yang dirancang untuk menarik talenta berpengalaman sambil memastikan akuntabilitas.
Melihat lebih jauh ke aset pribadi, laporan harta kekayaan penyelenggara negara saat Depari menjabat Kapolda Kepulauan Riau pada 2015 menunjukkan total kekayaan mencapai lebih dari tiga miliar rupiah ditambah lima puluh ribu dolar Amerika Serikat. Komposisinya meliputi tanah dan bangunan senilai hampir dua miliar rupiah, usaha lain sekitar tiga puluh juta rupiah, harta bergerak lebih dari tiga ratus juta rupiah, surat berharga tiga ratus juta rupiah, serta giro dan setara kas sekitar lima ratus dua puluh lima juta rupiah plus mata uang asing tersebut. Tidak ada catatan piutang yang signifikan. Data ini, yang wajib dilaporkan untuk transparansi, menggambarkan akumulasi kekayaan yang selaras dengan karir panjang di sektor publik.

Kisah Arman Depari tidak hanya tentang pencapaian individu, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman di bidang keamanan dapat diterapkan untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional melalui peran di BUMN. Di era di mana integritas menjadi kunci, latar belakangnya dalam memerangi narkotika memberikan perspektif unik dalam mengawasi operasional yang rentan terhadap ancaman kejahatan terorganisir. Meski demikian, penunjukan semacam ini sering kali memicu diskusi tentang keseimbangan antara keahlian publik dan independensi korporasi, menekankan pentingnya tata kelola yang baik untuk mencegah konflik kepentingan
Pewarta : Yudha Purnama

