RI News Portal. Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk berita global yang semakin sering membahas wilayah utara seperti Greenland, tak ada waktu yang lebih pas untuk merilis sekuel bencana yang menyoroti nama itu. Film ini datang di saat dunia nyata tengah bergulat dengan isu geopolitik dan lingkungan, membuat judulnya terasa seperti sindiran tajam terhadap realitas kita. Namun, alih-alih membangkitkan rasa ingin memiliki, “Greenland 2: Migration” justru membuat penonton ingin segera meninggalkan tempat itu – dan mungkin juga merenungkan nasib umat manusia.
Sekuel ini melanjutkan cerita dari film asli tahun 2020, di mana komet Clarke menghancurkan sebagian besar Bumi. Kini, lima tahun kemudian, sutradara Ric Roman Waugh membawa kita kembali ke keluarga Garrity yang selamat: John (Gerard Butler), Allison (Morena Baccarin), dan putra mereka yang kini remaja, Nathan (Roman Griffin Davis). Mereka bertahan di bunker bawah tanah Greenland yang gelap dan pengap, di mana kehidupan normal dipaksakan melalui rutinitas sekolah, pesta dansa malam, dan kelas olahraga. Tapi, ini bukan utopia; radiasi mematikan di permukaan membuat eksistensi mereka seperti mimpi buruk yang tak berujung.

Butler, dengan karisma tangguhnya yang sudah menjadi ciri khas, memerankan John sebagai pencari barang di permukaan yang berisiko tinggi, lengkap dengan topeng gas dan sikap pendiam yang menyembunyikan kegelisahan. Baccarin, sebagai Allison, menjadi jantung emosional film ini – ia menyampaikan ketakutan, kecemasan, dan kesedihan dengan nuansa yang halus, membuat penonton merasakan beban psikologis pasca-apokaliptik. Davis, yang sebelumnya mencuri perhatian di “Jojo Rabbit,” membawa energi segar sebagai Nathan, remaja yang memberontak dengan cara kecil-kecilan, seperti menyelinap keluar bunker untuk merasakan “kebebasan” yang beracun.
Cerita bergulir ketika bunker mulai kehabisan sumber daya, dan pecahan komet terus mengancam. Komite pengelola, termasuk Allison, mendiskusikan opsi migrasi: Islandia? Hilang. Kanada? Musnah. Eropa? Hampir seluruhnya lenyap. Satu harapan muncul: kawah di selatan Prancis yang konon aman, dengan udara bersih dan rumput hijau yang sesungguhnya. Tapi sebelum rencana matang, gempa dahsyat menghancurkan bunker, memaksa keluarga Garrity dan segelintir penyintas melarikan diri ke pantai, naik kapal kecil, dan menghadapi tsunami yang mengamuk.
Baca juga : Dinamika Hubungan Kuba-AS di Tengah Ketegangan Regional
Perjalanan mereka selanjutnya adalah odisei yang penuh bahaya: mendarat di Liverpool yang tenggelam seperti Venice pasca-letusan gunung berapi, mencari transportasi di dunia yang penuh predator manusia, dan melintasi Selat Inggris melalui jembatan rapuh yang terbuat dari tali. Waugh unggul dalam menyajikan pemandangan kota-kota hancur dan lanskap tandus, menciptakan suasana yang mencekam tanpa bergantung pada efek spesial berlebihan. Namun, di sinilah kelemahan muncul: fokus pada emosi dan karakter terasa setengah hati. Interaksi dengan karakter pendukung terasa dangkal, dan subplot seperti romansa Nathan dengan gadis yang ditemuinya hilang begitu saja, seolah dilupakan demi plot utama.
Tema migrasi menjadi inti yang paling relevan di era kita, di mana jutaan orang terpaksa berpindah karena konflik, bencana alam, atau perubahan iklim. Film ini tak hanya tentang melarikan diri dari Greenland yang radioaktif, tapi juga tentang konflik sosial – seperti perdebatan apakah menerima migran lain ke bunker, yang dimenangkan Allison dengan argumen kemanusiaan. Sayangnya, elemen ini tak dieksplorasi lebih dalam, membuatnya terasa seperti peluang terlewat untuk komentar sosial yang lebih tajam.
Baca juga : Siswi SMK Wonogiri Tantang Norma: Cita-Cita Mekanik Sepeda Motor dari Hati Nurani
Secara keseluruhan, “Greenland 2: Migration” adalah sekuel yang solid tapi suram, lebih mengandalkan ketegangan daripada inovasi. Butler dan Baccarin memberikan performa yang andal, tapi naskahnya kurang greget untuk membuat emosi benar-benar meledak. Ini bukan film yang akan mengubah genre bencana, tapi cukup menghibur bagi penggemar aksi pasca-apokaliptik yang mencari cerita tentang ketahanan keluarga di tengah kekacauan. Durasi 98 menit terasa pas, dengan rating PG-13 untuk kekerasan kuat, gambar berdarah, dan aksi intens. Skor: 2,5 dari 4 bintang – layak ditonton, tapi jangan harap Greenland ini akan membuat Anda ingin tinggal lebih lama.
Pewarta : Vie

