RI News Portal. Teheran, 11 Januari 2026 — Gelombang protes rakyat Iran yang dimulai akhir Desember lalu kini telah memasuki pekan ketiga. Demonstrasi yang awalnya dipicu oleh keruntuhan nilai rial dan krisis ekonomi telah berkembang menjadi tantangan terbuka terhadap fondasi kekuasaan teokrasi yang telah berlangsung hampir setengah abad.
Data terbaru yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber independen di luar negeri menunjukkan setidaknya 89 warga sipil tewas akibat kekerasan aparat sejak akhir Desember 2025. Jumlah tahanan yang dilaporkan mencapai lebih dari 3.100 orang, termasuk sejumlah mahasiswa, pengacara HAM, dan bahkan beberapa anggota keluarga korban protes sebelumnya. Angka-angka tersebut diperkirakan masih jauh lebih rendah dari realitas di lapangan mengingat pemadaman internet nasional yang sudah berlangsung lebih dari dua minggu.
Pemerintah Iran, melalui berbagai saluran resmi, terus menyampaikan narasi bahwa situasi telah terkendali dan mayoritas wilayah kembali tenang. Namun rekaman-rekaman yang berhasil lolos dari penyensoran dan diverifikasi secara independen menunjukkan gambaran berbeda: bentrokan sporadis masih terjadi di beberapa kota besar seperti Teheran, Isfahan, Tabriz, dan Shiraz, terutama pada malam hari.

Pada hari Jumat dan Sabtu lalu, otoritas kehakiman mengeluarkan pernyataan paling keras sejak gelombang protes ini dimulai. Jaksa Agung menyebut partisipasi dalam demonstrasi sebagai bentuk “moharebeh” (permusuhan terhadap Allah dan keamanan publik di bumi) — tuduhan yang dalam sistem hukum Iran dapat dijatuhkan hukuman mati. Pernyataan itu juga secara eksplisit menyatakan bahwa “siapa pun yang memberikan bantuan logistik, moral, atau informasi kepada para perusuh” akan diperlakukan sama.
Sikap keras tersebut mendapat respons beragam di kalangan elit politik Iran. Sejumlah tokoh konservatif moderat dilaporkan menyatakan keprihatinan secara pribadi atas eskalasi represi, meski belum ada pernyataan resmi yang keluar dari lingkaran kekuasaan inti. Sementara itu, kelompok garis keras justru menyerukan “pembersihan total” terhadap apa yang mereka sebut sebagai “elemen-elemen subversif yang didukung asing”.
Di luar negeri, Pangeran Reza Pahlavi kembali muncul dalam beberapa rekaman video yang disebarkan melalui jaringan diaspora. Ia menyerukan agar demonstran terus mempertahankan ruang-ruang publik dan menggunakan simbol-simbol nasional pra-revolusi 1979 sebagai bentuk penegasan identitas. Seruan tersebut memicu perdebatan sengit di kalangan pengunjuk rasa: sebagian melihatnya sebagai simbol perlawanan, sebagian lain mengkhawatirkan politisasi gerakan yang semula bersifat spontan dan lintas kelas.
Maskapai penerbangan internasional kini hampir sepenuhnya menghentikan penerbangan reguler ke bandara-bandara utama Iran. Beberapa perusahaan bahkan membatalkan penerbangan transit yang melewati wilayah udara Iran. Situasi ini semakin mempertegas isolasi informasi dan ekonomi yang dialami negara tersebut.
Para pengamat hubungan internasional mencatat pola yang mengkhawatirkan: semakin lama pemadaman internet berlangsung, semakin besar kemungkinan aparat keamanan melakukan operasi besar-besaran dengan pengawasan publik yang minimal. Pengalaman tahun 2019, ketika ratusan orang tewas dalam waktu singkat selama blackout komunikasi, masih menjadi bayang-bayang yang kuat di benak banyak kalangan.
Sementara komunitas internasional terus mengeluarkan pernyataan kecaman dan seruan penghentian kekerasan, belum ada tanda-tanda akan adanya inisiatif diplomatik yang konkret dan terkoordinasi. Dunia, pada dasarnya, hanya bisa menyaksikan dari kejauhan — melalui rekaman amatir yang berhasil diselundupkan, kesaksian diaspora, dan laporan terbatas dari segelintir jurnalis asing yang masih berada di dalam negeri.

Di tengah kabut informasi yang semakin tebal, satu hal tampak semakin jelas: gerakan protes yang dimulai dari kekecewaan ekonomi telah berevolusi menjadi ekspresi kemarahan yang jauh lebih mendalam terhadap sistem yang ada. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perubahan akan terjadi, melainkan berapa banyak nyawa lagi yang harus hilang sebelum titik balik itu benar-benar tiba.
(berita ini disusun dengan pendekatan jurnalistik akademis independen, menggunakan berbagai sumber terverifikasi lintas negara, tanpa mengandalkan satu pun narasi media daring tertentu yang sudah beredar luas)
Pewarta : Setiawan Winisono

