RI News Portal. Trenggalek – Di sudut Dusun Krajan, Desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan, sebuah bangunan sederhana menjadi saksi bisu perjalanan panjang kemanusiaan. Yayasan Panti Asuhan Yatim Piatu Al-Muhajirin, yang telah berdiri sejak September 1993, kembali menunjukkan denyut aktivitas sosialnya pada Jumat siang, 9 Januari 2026.
Tepat pukul 13.00 WIB, suasana panti tampak hangat saat agenda “Jumat Berkah” berlangsung. Kali ini, semangat berbagi hadir melalui sosok Bu Mariyati, seorang donatur asal Salamwetan, Dongko. Kehadirannya bukan sekadar memberikan bantuan materi berupa nasi kotak dan penganan kecil, namun menjadi simbol dukungan moral bagi puluhan anak yatim yang bernaung di sana.
Berdirinya Al-Muhajirin tidak lepas dari peran Bapak Syamsudin, sang perintis sekaligus koordinator yang bertanggung jawab penuh atas operasional yayasan. Memasuki usia ke-33 tahun, panti ini konsisten membina sekitar 30 anak asuh dengan rentang usia pendidikan dari tingkat SD hingga SMA.

“Kami mengedepankan optimisme dalam pembinaan. Kegiatan kami tidak hanya menetap di dalam asrama, tetapi juga aktif dalam agenda sosial seperti khitanan massal, yasinan, hingga pengajian intensif, terutama saat momentum bulan Ramadhan,” ungkap Syamsudin saat ditemui di lokasi.
Secara akademis, pola asuh yang diterapkan Al-Muhajirin menunjukkan model resiliensi sosial berbasis komunitas, di mana kemandirian anak asuh dibentuk melalui rutinitas spiritual dan organisasi internal.
Keberadaan panti ini mendapat apresiasi positif dari Pemerintah Daerah Trenggalek. Syamsudin mengakui bahwa Dinas Sosial setempat memberikan perhatian berkelanjutan terhadap legalitas dan aktivitas yang dijalankan. Hal ini memperkuat posisi Al-Muhajirin sebagai mitra strategis pemerintah dalam pengentasan masalah sosial anak.
Meski bantuan dari para donatur terus mengalir untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, Syamsudin memberikan catatan reflektif mengenai pengembangan infrastruktur. Ia menyebutkan bahwa aspirasi besar yang belum sepenuhnya terwujud adalah pembangunan Fasilitas Umum (Fasum) yang lebih representatif bagi para penghuni panti guna menunjang aktivitas pelatihan dan pembinaan yang lebih profesional.
Baca juga : Uji Materi UU Amnesti: Mahasiswa Hukum Gugat Celah “Absolutisme” Hak Prerogatif Presiden
Di sisi lain, Bu Mariyati menyatakan rasa syukurnya dapat berpartisipasi langsung. Menurutnya, aksi ini adalah upaya kecil untuk membawa kebahagiaan bagi anak-anak yatim piatu. Kehadiran figur donatur lokal seperti beliau mempertegas bahwa ekosistem kedermawanan di Trenggalek masih sangat kuat.
Menutup perbincangan, Syamsudin membuka pintu selebar-lebarnya bagi warga Trenggalek yang mengetahui adanya anak yatim piatu yang membutuhkan tempat bernaung dan pembinaan. Al-Muhajirin berkomitmen untuk terus mencetak generasi yang terlatih dan berakhlak mulia.
Pewarta: Sugeng

