RI News Portal. Kyiv-Paris, 4 Januari 2026 – Konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun terus menunjukkan pola eskalasi militer di wilayah perbatasan, bahkan saat upaya diplomatik untuk mengakhiri perang semakin intensif melalui pertemuan di Paris. Serangan drone dan rudal baru-baru ini menyebabkan korban sipil di kedua belah pihak, menyoroti tantangan utama dalam mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan, terutama terkait jaminan keamanan pasca-perang.
Di wilayah Belgorod, Rusia, sebuah serangan drone Ukraina pada akhir pekan lalu menewaskan satu warga sipil dan melukai dua orang lainnya, termasuk seorang anak kecil, ketika drone tersebut menghantam sebuah mobil. Pejabat lokal Rusia menyatakan bahwa insiden ini terjadi di tengah peningkatan serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur dan wilayah perbatasan, yang sering digambarkan sebagai respons terhadap agresi Rusia. Sementara itu, di sisi Ukraina, wilayah Kharkiv mengalami serangan rudal Rusia yang menghancurkan bangunan tempat tinggal, dengan korban jiwa meningkat menjadi empat orang setelah penemuan jenazah tambahan di bawah reruntuhan, disertai luka-luka pada puluhan warga sipil.

Serangan-serangan ini mencerminkan dinamika konflik yang lebih luas: Rusia terus mempertahankan kendali atas sekitar 20% wilayah Ukraina, sementara Ukraina mempertahankan strategi defensif dan serangan balik untuk melemahkan kemampuan logistik musuh. Dari perspektif akademis, pola ini mengilustrasikan konsep “perang atrisi” di mana kedua pihak berusaha melemahkan lawan melalui kerugian berkelanjutan, sementara negosiasi damai sering terganggu oleh insiden lapangan yang memperkuat narasi saling tuduh.
Di ranah diplomatik, pertemuan penasihat keamanan nasional dari lebih dari 18 negara sekutu Ukraina, termasuk perwakilan Eropa, Kanada, dan NATO, digelar di Kyiv pada awal Januari untuk membahas kerangka damai dan jaminan keamanan. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Ukraina telah membagikan semua dokumen terkait, termasuk proposal jaminan keamanan yang mencakup mekanisme pertahanan kolektif mirip Pasal 5 NATO, pemeliharaan kekuatan militer Ukraina, serta dukungan ekonomi untuk rekonstruksi. Pertemuan lanjutan dijadwalkan di Paris, melibatkan perwakilan militer Ukraina pada Senin dan pemimpin Eropa pada Selasa, dengan harapan finalisasi dokumen jaminan keamanan. Zelenskyy juga menyebut kemungkinan keterlibatan langsung perwakilan Amerika Serikat, sebagai bagian dari dorongan diplomatik yang lebih luas untuk mengakhiri konflik sebelum akhir Januari.
Baca juga : Penangkapan Nicolás Maduro: Pengaruh Hukum Internasional dan Dinamika Kekuasaan di Amerika Latin
Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa isu territorial tetap menjadi hambatan utama: Rusia menuntut pengakuan atas wilayah yang diduduki, termasuk Donbas sepenuhnya, sementara Ukraina menolak kompromi yang melemahkan integritas wilayahnya. Jaminan keamanan menjadi elemen kunci, karena pengalaman masa lalu—seperti Memorandum Budapest 1994—menunjukkan bahwa janji tanpa mekanisme penegakan yang kuat rentan gagal. Upaya saat ini, yang melibatkan koalisi sekutu, bertujuan menciptakan deteren yang kredibel untuk mencegah agresi ulang, dengan potensi penempatan pasukan Eropa dan dukungan AS sebagai pilar utama.
Meski kemajuan diplomatik terlihat, eskalasi militer baru-baru ini menggarisbawahi risiko bahwa negosiasi bisa tergelincir jika tidak disertai de-eskalasi di lapangan. Konflik ini tidak hanya menimbulkan korban manusia yang tragis, tetapi juga implikasi geopolitik jangka panjang bagi keamanan Eropa, di mana ketergantungan pada jaminan kolektif menjadi semakin krusial di era ketidakpastian global.
Pewarta : Setiawan Wibisono

