RI News Portal. Wonogiri, 30 Desember 2025 – Di tengah upaya berkelanjutan untuk mengembangkan komoditas kopi lokal sebagai pilar ekonomi pedesaan, sekitar seribu bibit kopi arabika ditanam secara serentak di kawasan hutan lindung Girimanik, Desa Setren, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, pada Sabtu, 27 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan penyelenggaraan kedelapan dari agenda tahunan yang dikenal sebagai inisiatif penanaman kopi massal oleh komunitas pegiat dan petani kopi setempat, sejak pertama kali digelar pada 2018.
Acara penanaman melibatkan partisipasi aktif dari petani lokal, pegiat kopi, serta warga desa sekitar. Selain bibit kopi arabika yang menjadi fokus utama, beberapa bibit tanaman buah seperti nangka madu juga turut ditanam untuk mendukung diversifikasi agroforestry di area hutan lindung tersebut. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan populasi tanaman produktif, tetapi juga mempertahankan fungsi ekologis hutan sebagai penyangga lingkungan.
Menurut Yosep Bagus Adi Santoso, Ketua Masyarakat Indikasi Geografis Kopi Wonogiri, pemilihan lokasi di Girimanik dalam dua tahun terakhir didasarkan pada potensi tinggi varietas kopi lokal tersebut. “Kopi arabika dari Girimanik menunjukkan peningkatan kualitas yang signifikan melalui intensifikasi budidaya, sehingga permintaan pasar terus meningkat,” ungkapnya. Ia menekankan bahwa varietas ini menjadi salah satu unggulan arabika di Wonogiri, yang secara historis lebih didominasi oleh kopi robusta.

Yosep menambahkan bahwa pertumbuhan minat petani terhadap budidaya kopi di kawasan ini didorong oleh stabilitas harga jual dan permintaan yang konsisten. Namun, ia menyoroti pentingnya perawatan pasca-penanaman sebagai elemen kunci. “Konsistensi dalam pemeliharaan tanaman akan menentukan hasil optimal, baik dari segi volume maupun mutu biji, agar kopi Girimanik dapat bersaing dengan produk dari wilayah lain,” jelasnya.
Dari perspektif lebih luas, pengembangan kopi arabika Girimanik berkontribusi pada diversifikasi produk kopi di Wonogiri. Meskipun relatif baru dibandingkan sentra kopi robusta lainnya, varietas ini telah menunjukkan cita rasa khas yang kompetitif berkat adaptasi terhadap kondisi geografis dataran tinggi. Pada 2025, Wonogiri juga memperoleh pengakuan resmi berupa sertifikat indikasi geografis untuk kopi robusta, yang menandai komitmen institutional terhadap perlindungan karakteristik unik produk lokal akibat faktor lingkungan alam dan praktik budidaya tradisional.
Inisiatif seperti ini mencerminkan strategi jangka panjang komunitas lokal dalam mengintegrasikan konservasi hutan dengan pengembangan ekonomi berkelanjutan. Dengan populasi tanaman kopi yang terus bertambah, diharapkan Girimanik dapat menjadi model agroforestry yang menginspirasi wilayah lain di Jawa Tengah, sekaligus memperkuat posisi Wonogiri dalam peta produksi kopi nasional.
Pewarta : Nandar Suyadi

