RI News Portal. Jakarta, 30 Desember 2025 – Di tengah antisipasi lonjakan permintaan pangan menjelang Tahun Baru 2026, kondisi pasokan dan harga beras di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan stabilitas yang signifikan. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan bahwa harga beras tetap terkendali di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Lampung, dan Bandung, didukung oleh cadangan beras nasional yang mencapai sekitar 3,35 juta ton.
Pernyataan tersebut disampaikan Rizal usai melakukan serangkaian peninjauan langsung di pasar-pasar tradisional, termasuk Pasar Kramat Jati di Jakarta Timur pada Senin (29/12). Dalam kunjungan tersebut, Rizal mendampingi pejabat tinggi pemerintah untuk memantau ketersediaan dan harga komoditas pangan pokok. Hasil observasi lapangan mengungkap bahwa beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dijual pada kisaran Rp62.000 per kemasan 5 kilogram, bahkan lebih rendah dari batas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp62.500.
“Harga beras secara keseluruhan cenderung datar dan stabil,” ujar Rizal. Ia mencontohkan, beras medium di pasar-pasar yang dikunjungi rata-rata berada pada Rp13.400 per kilogram, di bawah HET Rp13.500, sementara beras premium berkisar antara Rp14.800 hingga Rp14.900 per kilogram. Temuan serupa juga tercatat dari peninjauan sebelumnya di Surabaya, Lampung, dan Bandung, yang menunjukkan tidak adanya fluktuasi signifikan yang mengkhawatirkan.

Stabilitas ini tidak terlepas dari pengelolaan stok yang prudent. Cadangan beras nasional yang mencapai 3,35 juta ton dianggap sebagai buffer yang cukup untuk meredam potensi gejolak permintaan musiman. Khusus untuk wilayah DKI Jakarta, tersedia sekitar 290.000 ton beras yang siap digelontorkan ke pasar sesuai kebutuhan, memastikan pasokan tetap lancar hingga awal 2026. “Masyarakat, terutama di Jakarta, tidak perlu cemas akan kelangkaan beras karena cadangan di gudang masih melimpah dan dapat segera didistribusikan,” tambah Rizal.
Selain beras, komoditas minyak goreng kemasan sederhana juga terpantau patuh pada ketentuan harga, yakni Rp15.700 per liter, mencerminkan efektivitas pengawasan distribusi di berbagai daerah. Namun, tidak semua komoditas menunjukkan pola serupa. Cabai merah keriting, misalnya, masih mengalami tekanan harga di Jakarta, dengan kisaran Rp50.000 per kilogram akibat ketergantungan pasokan dari wilayah produsen lain, yang rentan terhadap faktor cuaca dan logistik.
Baca juga : Dukungan Beijing terhadap Diplomasi AS-Ukraina dalam Penyelesaian Krisis Ukraina
Dari perspektif akademis, stabilitas harga beras saat ini dapat dilihat sebagai hasil dari intervensi pemerintah yang berkelanjutan melalui mekanisme cadangan beras pemerintah (CBP). Dengan stok nasional pada level tinggi—salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir—pemerintah berhasil menekan inflasi pangan volatile, khususnya pada komoditas strategis seperti beras yang menyumbang porsi signifikan dalam keranjang inflasi rumah tangga. Pendekatan ini tidak hanya menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah, tetapi juga memberikan sinyal positif bagi ketahanan pangan nasional di tengah dinamika iklim dan rantai pasok global.
Meski demikian, fluktuasi pada komoditas hortikultura seperti cabai mengingatkan akan perlunya diversifikasi sumber pasokan dan penguatan infrastruktur distribusi antardaerah. Ke depan, penguatan serapan produksi domestik pada musim panen mendatang diharapkan dapat semakin memperkokoh fondasi stabilitas ini, memastikan transisi tahun baru berlangsung tanpa gangguan signifikan pada akses pangan masyarakat.
Pewarta : Yudha Purnama

