RI News Portal. Jakarta, 20 Desember 2025 – Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) secara resmi mengumumkan hasil kompetisi penulisan bertema “Pengalaman Buruk dengan Polisi Indonesia” pada Sabtu ini. Inisiatif ini, yang bertujuan membuka ruang refleksi kritis terhadap interaksi masyarakat dengan institusi penegak hukum, menerima respons yang lebih rendah dari ekspektasi, mencerminkan kompleksitas isu sensitif yang diangkat.
Menurut keterangan panitia, sebanyak 25 karya dikirimkan oleh 24 peserta sepanjang periode lomba tahun 2025. Angka ini jauh di bawah target awal, yang diatribusikan pada beberapa hambatan psikologis dan praktis. Banyak calon peserta dilaporkan enggan membuka kembali memori traumatis, khawatir akan implikasi pribadi, atau bahkan telah melupakan detail peristiwa masa lalu. Faktor ekonomi, seperti biaya registrasi Rp100.000, serta keterbatasan penyebaran informasi lomba, turut menjadi penghalang utama.
Dari seluruh submisi, hanya 11 karya yang lolos verifikasi administratif dan teknis, termasuk kelengkapan identitas serta bukti pembayaran. Rendahnya jumlah karya yang memenuhi syarat mendorong dewan juri untuk menyatakan lomba tidak memenuhi ambang partisipasi minimal guna menetapkan pemenang utama. Meski demikian, sebagai penghormatan atas keberanian peserta, juri memilih lima karya terbaik untuk menerima pengakuan khusus.

Kelima karya tersebut, disusun berdasarkan urutan abjad judul, adalah sebagai berikut:
- Demi Raport Bagus Penyidik, Papaku Dijadikan Tersangka Pembunuhan Mamaku (inisial penulis: RP)
- Ketika Rumah Saya Diteror: Harapan untuk Polri yang Lebih Transparan dan Melindungi Jurnalis (inisial: IR)
- Mengapa Harus Saya yang Ditilang? (inisial: DKUT)
- Motor Tua dan Luka yang Tak Pernah Hilang (inisial: ES)
- Peristiwa Tilang Ajaib di Ladang Padi (inisial: BS)
Para penulis kelima karya ini akan memperoleh sertifikat penghargaan, dana apresiasi Rp1.000.000 (setelah pemotongan pajak 25%), serta merchandise organisasi berupa kaos dan pin. Dewan juri, yang terdiri dari Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., MA; Mung Pujanarko, S.Sos., M.I.Kom.; serta Neneng Jauharah Khairiah, S.H., menegaskan keputusan mereka bersifat final dan tidak dapat digugat.
Panitia menghimbau kelima penulis terbaik untuk segera menghubungi sekretariat nasional melalui nomor WhatsApp +62-857-7200-4248 (kontak: Wina) guna pengurusan penghargaan. Sementara itu, semua peserta akan menerima piagam partisipasi digital melalui email sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi mereka.
Baca juga : Kesiapan Pengamanan Nataru di Jembrana: Sinergi Lintas Sektor Hadapi Lonjakan Mobilitas dan Risiko Cuaca
Menanggapi dinamika lomba kali ini, PPWI menyatakan komitmen untuk menggelar edisi serupa di masa depan dengan pendekatan yang lebih inklusif: tanpa biaya pendaftaran dan strategi sosialisasi yang lebih luas untuk menjangkau lapisan masyarakat yang lebih beragam. Langkah ini diharapkan dapat mendorong partisipasi yang lebih representatif, sekaligus memperkaya diskursus publik mengenai reformasi pelayanan penegak hukum.
PPWI juga menyampaikan rasa terima kasih kepada berbagai pihak pendukung, termasuk mitra yang turut menyebarkan informasi lomba. Bagi entitas yang telah berkontribusi dalam publikasi terkait, panitia mengundang untuk menghubungi Wasekjen Julian Caisar di nomor +62-813-7895-7515 dengan melampirkan bukti tautan, demi penerbitan piagam apresiasi digital.
Inisiatif semacam ini menegaskan peran organisasi jurnalisme warga dalam memfasilitasi ekspresi sipil yang konstruktif, terutama pada topik yang sering kali terpinggirkan dalam wacana nasional. Meski partisipasi terbatas, lomba ini berhasil menyorot narasi personal yang potensial menjadi katalisator perubahan institusional.
Pewarta : Miftahkul M

