RI News Portal. Madrid, 1 November 2025 – Getafe CF memperkuat ambisi mereka menembus zona Liga Champions dengan meraih kemenangan tipis 2-1 atas Girona FC pada pekan ke-11 La Liga, yang digelar di Stadion Coliseum Alfonso Pérez, Madrid, Sabtu dini hari WIB. Kemenangan ini tidak hanya mencerminkan ketangguhan taktis skuad asuhan José Bordalás, tetapi juga menyoroti paradoks efisiensi serangan di tengah dominasi penguasaan bola lawan.
Meski Girona menguasai bola hingga 60 persen sepanjang laga, Getafe justru unggul dalam hal ancaman nyata dengan melancarkan 12 tembakan, dibandingkan delapan upaya dari tim tamu. Data ini menggarisbawahi strategi Bordalás yang mengandalkan serangan balik cepat dan bola mati, sebuah pendekatan yang telah menjadi ciri khas Getafe sejak era Quique Sánchez Flores dan kini semakin matang di bawah komando pelatih berusia 61 tahun itu.
Pertandingan dimulai dengan inisiatif Getafe yang agresif. Pada menit-menit awal, sundulan Coba da Costa dari umpan silang menyamping tipis di sisi gawang Girona, disusul tendangan jarak menengah Luis Milla yang berhasil diamankan kiper Paulo Gazzaniga. Girona, di bawah arahan Míchel Sánchez, merespons dengan tendangan spekulatif Viktor Tsygankov dari luar kotak penalti, yang masih mampu ditepis kiper David Soria.

Memasuki babak kedua, tempo permainan semakin intens. Girona nyaris membuka skor melalui Azzedine Ounahi, yang melepaskan tendangan setelah menerima umpan terobosan Thomas Lemar, namun bola melenceng dari sasaran. Tekanan ini seolah menjadi sinyal bagi Getafe untuk mempercepat transisi.
Kebuntuan pecah pada menit ke-72. Umpan silang presisi dari Luis Milla disambut sundulan Mario Martín, gelandang muda berusia 21 tahun yang dipinjam dari Real Madrid, untuk membawa tuan rumah unggul 1-0. Gol ini bukan sekadar momen individu; ia mencerminkan investasi Getafe pada talenta muda yang terintegrasi dengan pengalaman veteran seperti Milla.
Keunggulan digandakan pada menit ke-86 melalui skema bola mati. Sepak pojok Alex Sancris dikonversi Borja Mayoral dengan tendangan kaki kiri keras yang tak terjangkau Gazzaniga, menjadikan skor 2-0. Mayoral, penyerang berusia 28 tahun yang telah mencetak lima gol musim ini, kembali membuktikan insting predatornya di area penalti.
Baca juga : Peta Jalan AI Nasional Menanti Harmonisasi: Perpres Strategis Diproyeksi Terbit Awal 2026
Girona bangkit di injury time. Pelanggaran di kotak penalti Getafe menghadiahi tendangan 12 pas, yang dieksekusi sempurna oleh Cristhian Stuani pada menit 90+4. Gol ini sempat menyulut harapan comeback, dengan Girona terus menggempur hingga peluit panjang. Namun, pertahanan rapat Getafe, dipimpin Soria yang mencatatkan empat penyelamatan krusial, memastikan tiga poin tetap di Madrid selatan.
Kemenangan ini melambungkan Getafe ke peringkat keenam dengan 17 poin dari 11 laga, hanya terpaut dua angka dari zona empat besar yang ditempati tim-tim seperti Athletic Bilbao dan Villarreal. Bagi Bordalás, hasil ini memperpanjang catatan tak terkalahkan mereka di kandang menjadi enam pertandingan, sebuah fondasi solid untuk menantang hegemoni klub-klub besar.

Sebaliknya, Girona terpuruk di dasar klasemen dengan tujuh poin, tertinggal dua angka dari zona aman. Kekalahan ini memperburuk rekor away mereka yang baru meraih satu kemenangan dari enam laga tandang, menambah tekanan pada Míchel untuk merotasi skuad di tengah badai cedera dan inkonsistensi.
Dari perspektif analitis, laga ini menawarkan pelajaran tentang evolusi taktik La Liga: dominasi bola tidak lagi menjamin hasil, melainkan efisiensi dalam menciptakan peluang berkualitas. Getafe, dengan pendekatan pragmatisnya, kini menjadi contoh bagaimana tim middle-table dapat mengganggu hierarki tradisional kompetisi. Pertanyaan selanjutnya: akankah momentum ini bertahan hingga jeda internasional, atau justru menjadi puncak sementara sebelum tantangan lebih berat menghadang?
Pewarta : Vie

