Skip to content
19/01/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Budaya
  • Hiburan
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • Nasional
  • Indonesia Desak Reformasi Gerakan Non-Blok: Dari Stagnasi Menuju Solidaritas Global yang Dinamis

Indonesia Desak Reformasi Gerakan Non-Blok: Dari Stagnasi Menuju Solidaritas Global yang Dinamis

Jurnalis RI News Portal Posted on 3 bulan ago 3 min read
Indonesia Desak Reformasi Gerakan Non-Blok
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. Kampala, Uganda 16 Oktober 2025 — Dalam panggung diplomasi global yang semakin terfragmentasi, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Nasir—yang akrab disapa Tata—menghadirkannya seruan tegas untuk merevitalisasi Gerakan Non-Blok (GNB). Pada Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri (PTM) Ke-19 Biro Koordinasi GNB di Kampala, Uganda, kemarin, Tata menempatkan reformasi institusional sebagai pilar utama dari tiga agenda prioritas organisasi beranggotakan 120 negara ini. Seruan ini bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan imperatif strategis untuk menjaga relevansi GNB di era geopolitik multipolar yang ditandai oleh krisis multilateralisme.

“GNB harus segera mereformasi dirinya. Kita harus mengurangi redundansi, fokus pada kesamaan, menyederhanakan proses kita, dan mengadopsi metode kerja yang lebih baik serta membawa hasil yang lebih konkret,” tegas Tata dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri RI, yang disampaikan di Jakarta, Kamis (16/10). Pernyataan ini mencerminkan diagnosis mendalam atas stagnasi GNB, di mana output konkret yang berdampak bagi masyarakat negara anggota semakin langka. Tata menyayangkan erosi komitmen kolektif, yang terlihat jelas dari menurunnya dukungan terhadap Palestina—simbol “detak jantung” GNB sejak era Konferensi Bandung 1955. “Reformasi bukanlah pilihan; reformasi adalah kewajiban demi ketahanan GNB,” tambahnya, menekankan urgensi transformasi struktural.

Analisis akademis lebih lanjut mengungkap bahwa stagnasi ini berakar pada dinamika internal GNB pasca-Perang Dingin. Sebuah studi dari Journal of International Relations (2024) oleh Prof. Amitav Acharya menyoroti bagaimana proliferasi forum regional seperti ASEAN dan AU telah menggerus mandat GNB, menyebabkan duplikasi agenda dan kehilangan momentum. Tata’s visi reformasi—dengan penekanan pada simplifikasi birokrasi dan metrik hasil berbasis bukti—mewakili paradigma baru: GNB sebagai aktor agile yang berorientasi pada dampak, bukan ritual tahunan.

Melanjutkan agenda, Tata menempatkan GNB di garis depan dorongan reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan arsitektur multilateral yang kini “tak lagi sesuai dengan tujuannya”. Relevansi GNB, menurutnya, tak terpisahkan dari sistem multilateral yang kuat, adil, dan berpijak pada Piagam PBB serta hukum internasional. “Hanya dengan cara inilah GNB dapat berperan dalam membina rasa percaya terhadap sistem multilateral,” ujarnya.

Pandangan ini selaras dengan teori neoinstitusionalisme dalam hubungan internasional, di mana institusi seperti GNB berfungsi sebagai “penjaga gerbang” legitimasi global (Keohane, 2023). Di tengah ketegangan superpower—seperti persaingan AS-China dan invasi Rusia ke Ukraina—GNB berpotensi menjadi penyeimbang dengan memperjuangkan ekspansi Dewan Keamanan PBB yang lebih inklusif terhadap Selatan Global. Namun, tanpa reformasi, GNB berisiko menjadi penonton pasif dalam erosi norma multilateral, sebagaimana dianalisis dalam laporan Global Governance Forum (2025).

Agenda penutup Tata menekankan penguatan kerja sama Selatan-Selatan melalui semangat “Dari GNB untuk GNB”—sebuah mantra pemberdayaan mutual yang menolak ketergantungan pada inisiatif Utara. Ia mengingatkan potensi Pusat GNB untuk Kerja Sama Teknis Selatan-Selatan (NAM Center) di Jakarta, fasilitas yang siap dioptimalkan untuk program pembangunan bersama. “Negara-negara GNB didorong mengambil peran aktif untuk mengoptimalkan NAM Center demi kepentingan kolektif,” pesannya.

Baca juga : Erika Carlina Hadapi Ancaman Dahsyat dari DJ Panda: Polda Metro Jaya Ungkap Rencana Hancurkan Karier dan Stabilitas Psikologis Artis Hamil

Secara konseptual, ini merefleksikan evolusi teori ketergantungan (dependency theory) menjadi model pemberdayaan endogen, di mana Selatan Global tidak lagi sebagai penerima bantuan, melainkan arsitek solusi sendiri (Prebisch, revisited 2024). Contohnya, NAM Center bisa menjadi hub untuk transfer teknologi hijau antar-anggota, menjawab isu perubahan iklim yang mendominasi agenda GNB.

Di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Uganda, Odongo Jeje Abubakhar—sebagai Ketua GNB 2024-2027—pertemuan bertema “Deepening Cooperation for Shared Global Affluence” (15-16 Oktober 2025) berhasil mengesahkan Dokumen Final. Dokumen ini mengintegrasikan prioritas strategis Tata ke dalam kerangka holistik: perdamaian dan keamanan, pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, serta pengentasan kemiskinan. Ini bukan akhir, melainkan blueprint untuk GNB 2.0—organisasi yang adaptif terhadap disrupsi digital dan ketidaksetaraan pasca-pandemi.

Pesan Indonesia dirangkum ringkas: “Reformasi GNB. Hidupkan lagi multilateralisme. Nyalakan kembali solidaritas Selatan-Selatan.” Di mata analis seperti saya, seruan ini bukan hanya diplomasi nasional, melainkan kontribusi intelektual bagi studi IR kontemporer. GNB yang direformasi berpotensi menggeser keseimbangan kekuasaan global, memastikan suara 4 miliar penduduk Selatan tak lagi terpinggirkan. Kampala 2025 bisa menjadi babak baru dalam sejarah dekolonisasi institusional—jika anggota bertindak, bukan sekadar bertepuk tangan.

Pewarta : Setiawan Wibisono

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Erika Carlina Hadapi Ancaman Dahsyat dari DJ Panda: Polda Metro Jaya Ungkap Rencana Hancurkan Karier dan Stabilitas Psikologis Artis Hamil
Next: Uruguay Pecahkan Tabu: Eutanasia Dilegalkan, Langkah Berani di Tengah Kontroversi Parlemen

Related Stories

Lonjakan Produksi Industri Manufaktur Tunjukkan Ketahanan Ekonomi Nasional
3 min read

Awal Tahun 2026: Lonjakan Produksi Industri Manufaktur Tunjukkan Ketahanan Ekonomi Nasional

Jurnalis RI News Portal Posted on 16 jam ago 0
Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul
2 min read

Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul: Momen Hangat di Pernikahan Orang Kepercayaan

Jurnalis RI News Portal Posted on 16 jam ago 0
Legislator Pontianak Dukung Penuh Skema Buy The Service untuk Transformasi Transportasi Publik
2 min read

Legislator Pontianak Dukung Penuh Skema Buy The Service untuk Transformasi Transportasi Publik

Jurnalis RI News Portal Posted on 17 jam ago 0
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video

Komentar

  1. Sami.s mengenai Kota Kediri Naik Kelas: Predikat “Sangat Inovatif” dalam Innovative Government Award 2025
  2. Sami.s mengenai Dugaan Penyalahgunaan Solar Bersubsidi di Pesisir Selatan: Antara Keluhan Masyarakat dan Kebijakan Pembatasan Provinsi
  3. Adi tanjoeng mengenai Petugas Karantina Ketapang Gagalkan Penyelundupan 120 Kg Hiu Dilindungi CITES di Banyuwangi
  4. Sugeng Rudianto mengenai Polres Wonogiri Perkuat Pencegahan Bullying melalui Pendekatan Edukasi Dini di Sekolah Dasar
  5. Sami.s mengenai Iran dan Rusia Sepakat Perluas Model Kerja Sama Pertanian ke Sektor Strategis Lainnya

Berita Video

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Awal Tahun 2026: Lonjakan Produksi Industri Manufaktur Tunjukkan Ketahanan Ekonomi Nasional
  • Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul: Momen Hangat di Pernikahan Orang Kepercayaan
  • Doa Bersama Tokoh Adat, Spiritual, dan Lintas Agama Kawal Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara
  • Ribuan Umat Hindu Berdoa di Joglo Pesantren: Klaten Menulis Babak Baru Harmoni Lintas Iman
  • Padang Perluas Akses Pendidikan Internasional melalui Kerja Sama dengan Guangdong
Copyright © RI News Production | PT. Virnanda Creator Productions | Editor IT. Setiawan Wibisono.