RI News Portal. Wonogiri, Jawa Tengah – Di kaki Gunung Lawu yang hijau membentang, tersembunyi sebuah destinasi alam yang menawarkan ketenangan luar biasa. Telaga Madirda, terletak di Dusun Tlogo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, menjadi magnet bagi wisatawan yang mencari pelarian dari hiruk-pikuk kota. Dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, tempat ini menyuguhkan udara sejuk hingga dingin yang menyegarkan, disertai hembusan angin segar dari pegunungan sekitar.
Pemandangan telaga berair jernih yang dikelilingi bukit-bukit hijau dan pepohonan rindang menciptakan panorama yang memukau. Air telaga ini konon tidak pernah surut, menjaga kejernihannya sepanjang tahun berkat sumber mata air alami dari lereng gunung. Banyak pengunjung memanfaatkan spot-spot foto yang telah disiapkan pengelola, mulai dari tepi telaga hingga area berlatar pegunungan, menjadikannya lokasi favorit untuk mengabadikan momen liburan yang instagramable.
Fasilitas di Telaga Madirda tergolong lengkap untuk wisata alam keluarga maupun petualangan. Pengunjung dapat menyewa perahu dayung untuk mengarungi permukaan telaga sambil menikmati pemandangan, atau mencoba wahana air seperti bebek-bebekan dan kano yang menambah keseruan. Bagi yang ingin menjelajah lebih jauh, tersedia penyewaan mobil Jeep untuk berkeliling kawasan sekitar telaga hingga lereng Gunung Lawu. Area outbound dan berbagai kegiatan rekreasi juga tersedia, sementara spot berkemah menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin merasakan malam di alam terbuka, ditemani udara pagi yang dingin dan kabut tipis yang menyelimuti telaga saat fajar.

Di balik keindahan alamnya, Telaga Madirda menyimpan cerita legenda yang diwariskan secara turun-temurun oleh warga setempat. Konon, telaga ini terbentuk dari sebuah pusaka sakti bernama Cupu Manik Astagina, benda ajaib pemberian Bathara Surya yang mampu memperlihatkan kejadian di mana saja tanpa harus berada di lokasi tersebut. Pusaka itu dimiliki oleh pasangan Resi Gutama dan Dewi Indradi, yang memiliki tiga anak: Retno Anjani, serta kedua saudaranya Sugriwa dan Subali.
Ketika Dewi Indradi menyerahkan pusaka tersebut kepada Retno Anjani, kecemburuan muncul di antara kedua saudara laki-lakinya. Untuk mencegah perselisihan keluarga yang semakin memanas, Resi Gutama memutuskan membuang pusaka itu. Secara ajaib, tempat pembuangan pusaka berubah menjadi telaga dengan air bening yang tak pernah kering, yang kini dikenal sebagai Telaga Madirda. Nama “Madirda” sendiri diyakini berasal dari kata Jawa yang berarti “memabukkan”, menggambarkan daya tarik telaga yang mampu membuat siapa pun terpesona dan “mabuk” akan keindahannya.
Baca juga : Tragedi Maut di Perlintasan Kebumen: Truk Mogok Dihantam KA Gajayana, Sopir Tewas, Petugas Jaga Luka Berat
Meski legenda itu lebih bersifat cerita rakyat dan bagian dari warisan budaya, keberadaan Telaga Madirda tetap menjadi pengingat penting akan pelestarian alam. Sebagai sumber mata air bagi masyarakat sekitar sekaligus objek wisata, tempat ini perlu dijaga kelestariannya agar tetap indah dan lestari bagi generasi mendatang.
Dari pusat Kota Karanganyar, jarak ke Telaga Madirda sekitar 25 kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit menggunakan kendaraan pribadi. Akses jalan yang cukup baik membuatnya mudah dijangkau, terutama bagi wisatawan dari Solo atau sekitarnya.
Telaga Madirda bukan sekadar destinasi liburan, melainkan perpaduan harmonis antara keindahan alam, fasilitas modern, dan kekayaan cerita leluhur yang membuat setiap kunjungan terasa bermakna.
Pewarta: Nandar Suyadi

