RI News Portal. Slawi, 14 Januari 2026 – Di tengah dinamika pascabencana yang masih membekas di berbagai wilayah Sumatera, Pemerintah Kabupaten Tegal menegaskan komitmennya dalam membangun jaringan solidaritas nasional. Melalui upaya penggalangan dana yang berlangsung sejak akhir tahun lalu, daerah ini berhasil mengumpulkan dan menyerahkan bantuan senilai lebih dari Rp1,5 miliar untuk mendukung korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Langkah ini tidak hanya mencerminkan respons kemanusiaan yang cepat, tetapi juga model pengelolaan donasi yang menekankan efisiensi dan akuntabilitas di tingkat lokal.
Proses penyerahan simbolis berlangsung di ruang rapat utama kantor bupati pada Selasa kemarin, dihadiri oleh para pemimpin daerah, perwakilan forum koordinasi pimpinan wilayah, serta pimpinan unit pemerintahan dan organisasi mitra. Acara tersebut menjadi momentum untuk merefleksikan bagaimana kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat dapat menghasilkan dampak signifikan tanpa bergantung pada acara seremonial yang mahal. Hingga awal Januari ini, total dana yang terkumpul mencapai Rp1.578.360.958, dengan sumber utama berasal dari kontribusi aparatur sipil negara, badan usaha milik daerah, perangkat desa, serta inisiatif dari berbagai kelompok masyarakat.
Dalam pidato pembukanya, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyoroti nilai kebersamaan sebagai pondasi utama dalam menghadapi krisis nasional. “Kita patut bersyukur atas gelombang kepedulian yang muncul dari berbagai lapisan masyarakat di sini. Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan manifestasi nyata dari semangat gotong royong yang telah menjadi bagian dari identitas bangsa kita,” katanya. Ia menambahkan bahwa donasi ini lahir dari sinergi yang kuat, di mana setiap pihak berkontribusi tanpa membebani anggaran publik secara berlebihan.

Secara rinci, dana tersebut akan dialokasikan secara proporsional ke tiga wilayah terdampak utama, dengan penekanan pada pemulihan infrastruktur dasar seperti jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan primer bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Penyaluran dipercayakan sepenuhnya kepada lembaga pengelola donasi yang kredibel, dengan mekanisme yang dirancang untuk memastikan transparansi penuh—mulai dari pelaporan penggunaan dana hingga audit independen. Pendekatan ini selaras dengan kerangka hukum nasional, termasuk undang-undang penanggulangan bencana tahun 2007 dan peraturan pemerintah terkait, yang mendorong partisipasi aktif daerah dalam respons kemanusiaan.
Sekretaris Daerah Amir Makhmud menjelaskan bahwa penggalangan dana dimulai pada November 2025, sebagai respons langsung terhadap laporan awal bencana yang melanda Sumatera. “Kami fokus pada kanal resmi untuk menghimpun kontribusi tunai, sehingga prosesnya lebih efisien dan mudah diawasi,” ujarnya. Kontribusi terbesar datang dari kelompok aparatur sipil dengan Rp819 juta lebih, diikuti oleh lembaga sosial seperti yang mengelola bantuan kemanusiaan dengan Rp138 juta, pengelola zakat dengan Rp729 juta, organisasi kepanduan dengan Rp291 juta, serta kelompok pendidik dengan Rp256 juta. Total ini menunjukkan bagaimana diversifikasi sumber donasi dapat memperkuat resiliensi sosial di tengah tantangan ekonomi pascapandemi.
Baca juga : Prestasi SMK Negeri 1 Adiwerna di Lomba Otomotif: Bukti Keberhasilan Pendidikan Berbasis Industri
Lebih dari sekadar bantuan lintas wilayah, acara penyerahan juga menyertakan inisiatif lokal untuk mendukung warga Tegal sendiri. Seorang remaja penyandang cerebral palsy dari Desa Karangmulya menerima kursi roda khusus untuk meningkatkan mobilitasnya, sementara seorang warga Desa Sokasari yang rumahnya rusak akibat longsor mendapat pasokan semen untuk rekonstruksi. Gestur ini menggarisbawahi prinsip bahwa solidaritas harus dimulai dari rumah sendiri, sebelum meluas ke skala nasional.
Langkah Kabupaten Tegal ini datang di saat yang krusial, ketika data nasional menunjukkan peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim. Para ahli lingkungan menilai bahwa upaya seperti ini tidak hanya meringankan beban korban, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya mitigasi risiko di tingkat daerah. Dengan demikian, inisiatif ini bisa menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengintegrasikan nilai kemanusiaan ke dalam kebijakan publik, memastikan bahwa bantuan bukan hanya sementara, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk ketahanan bangsa.
Pewarta: Ikhwanudin

