RI News Portal. Wonogiri, 30 Desember 2025 – Upaya pemulihan pasca-bencana tanah longsor yang merusak pondasi Jembatan Kedung Sreni di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, menunjukkan kekuatan kolaborasi antara aparat keamanan dan masyarakat setempat. Personel dari satuan TNI Angkatan Darat, kepolisian, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bahu-membahu dengan warga dalam memperbaiki struktur vital tersebut melalui pendekatan gotong royong.
Bencana longsor yang dipicu oleh curah hujan tinggi pada akhir Desember 2025 ini telah mengganggu akses penghubung antar-desa, yang merupakan jalur utama bagi aktivitas sehari-hari masyarakat. Jembatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghubung fisik, tetapi juga mendukung mobilitas anak-anak menuju sekolah serta pengangkutan hasil pertanian dan kebun oleh warga. Kerusakan pada tebing dan pondasi jembatan menimbulkan risiko keselamatan yang signifikan, sehingga pemulihan difokuskan pada penguatan elemen-elemen struktural tersebut untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

“Ini merupakan langkah konkret untuk mengembalikan fungsi akses vital yang terdampak hujan deras, sekaligus memastikan keamanan bagi pengguna jalan,” ungkap Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihahuan, Komandan Kodim 0728/Wonogiri, pada Senin (29/12/2025). Ia menekankan bahwa inisiatif ini mencerminkan komitmen institusi TNI dalam mendampingi masyarakat menghadapi tantangan bencana, serta memperkuat ikatan kemanunggalan antara aparat dan rakyat di wilayah Wonogiri yang dikenal rawan hidrometeorologi.
Keterlibatan multipihak dalam proses perbaikan ini tidak hanya mempercepat pemulihan infrastruktur, tetapi juga menjadi manifestasi nilai gotong royong yang tetap relevan dalam konteks penanganan bencana modern. Warga Desa Dlepih dan sekitarnya menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran dan kontribusi aparat, yang dianggap sebagai bentuk solidaritas nyata dalam mengatasi kesulitan bersama. Mereka merasa terbantu secara signifikan, terutama dalam meminimalkan dampak jangka panjang terhadap aktivitas ekonomi dan sosial.
Baca juga : Tragedi di Perlintasan Sebidang: Seorang Perempuan Tewas Terserempet Kereta Api di Kabupaten Tegal
Fenomena ini turut menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan kolektif di daerah rawan longsor seperti Kecamatan Tirtomoyo, di mana faktor geomorfologi dan intensitas hujan sering menjadi pemicu utama. Melalui pendekatan kolaboratif semacam ini, pemulihan pasca-bencana tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memperkuat resiliensi komunitas lokal terhadap ancaman serupa di masa mendatang.
Pewarta : Nandar Suyadi

