RI News Portal. Wonogiri, 12 Januari 2026 – Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia otomotif, seorang pelajar perempuan dari SMK 1 Puhpelem, Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, muncul sebagai inspirasi. Almira, siswi jurusan otomotif perbengkelan sepeda motor, telah memelihara mimpi menjadi ahli mekanik sejak masa sekolah dasar. Pilihan ini bukan hasil paksaan dari orang tua atau pihak lain, melainkan panggilan dari dalam dirinya sendiri.
Almira mengungkapkan kebanggaannya atas jalur yang ia pilih, yang ia anggap sebagai peluang untuk menjadi teladan bagi perempuan lain. “Kebanggaan bagi seorang wanita apabila kelak bisa menjadi role model yang beda dengan wanita-wanita lain dan bermanfaat bagi keluarga serta orang lain di dunia perbengkelan, serta bisa memotivasi wanita yang lainnya,” kata Almira dengan penuh semangat. Pandangannya terhadap otomotif berbeda dari stereotip umum perempuan; ia menikmati proses mengutak-atik mesin sepeda motor miliknya sendiri. Bahkan, ia mampu mendeteksi ketidaknormalan pada mesin hanya dari sensasi saat berkendara, seperti ketidaknyamanan yang menandakan perlunya perbaikan.
Bagi Almira, dunia ini penuh tantangan yang menggairahkan. “Bagi saya kesannya sangat menantang untuk saya bisa belajar. Apalagi untuk mengetahui bagian-bagian kedalaman mesin di sepeda motor. Tantangannya kelak seandainya saya sudah menjadi mekanik sepeda motor, bagi saya untuk bisa menjelaskan keluhan-keluhan dari konsumen mengenai sepeda motor yang like jalan itu yang seperti apa dan yang perlu dibenahi atau diganti bagian apa,” jelasnya. Pendekatan ini mencerminkan komitmennya untuk tidak hanya memperbaiki kendaraan, tetapi juga membangun komunikasi efektif dengan pelanggan, sebuah keterampilan krusial dalam profesi yang sering dianggap maskulin.

Perjalanan Almira semakin nyata melalui program praktek kerja lapangan (PKL) di sebuah bengkel sepeda motor di Kecamatan Jatisrono, yang direkomendasikan oleh guru sekolahnya. Pemilik bengkel, Jiarto yang akrab disapa Ujit, dari “LAMBAU MOTOR” di Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono, mengaku ini pengalaman pertamanya menerima siswi PKL. “Baru pertama kali saya menerima pelajar praktek kerja lapangan seorang perempuan. Awalnya saya canggung untuk mengajari, namun apa boleh buat, memang ini jurusan yang diambil Almira dengan tekad bulat ingin menjadi seorang wanita menantang di dunia perbengkelan sepeda motor,” ujar Ujit.
Ujit menambahkan bahwa langkah Almira selaras dengan semangat pemberdayaan perempuan, di mana perempuan berdaya dan berkarya sesuai slogan emansipasi. “Hal itu sesuai pengembangan kompetensi wanita dalam pemberdayaan perempuan berdaya, berkarya sesuai slogan emansipasi wanita, maka tidak ada salahnya seorang Almira memilih sekolah jurusan perbengkelan roda dua,” tambahnya. Kisah ini menyoroti bagaimana pendidikan vokasi dapat menjadi alat untuk memecah batas gender, memungkinkan perempuan memasuki bidang teknis yang secara historis didominasi pria.
Baca juga : Pergantian Kepemimpinan di Kepolisian Kebumen: Dinamika Organisasi dalam Konteks Penyegaran Institusi
Almira bukan satu-satunya. Menurut Anton, salah satu guru di SMK 1 Puhpelem, terdapat 28 siswi lain yang memilih jurusan serupa. “Ada jumlah 28 siswi yang mengambil jurusan seperti Almira, bahkan SMK 1 Puhpelem jurusan otomotif mesin dan perbengkelan banyak diminati dalam dekade ajaran 2025-2026 ini,” imbuh Anton. Tren ini menandakan pergeseran paradigma di kalangan generasi muda, di mana minat terhadap keterampilan praktis melampaui norma sosial tradisional.
Cerita Almira menjadi bukti bahwa aspirasi perempuan di bidang non-konvensional bukan hanya mimpi, melainkan realitas yang dapat menginspirasi perubahan lebih luas. Di era di mana kesetaraan gender semakin ditekankan, langkahnya membuka pintu bagi lebih banyak perempuan untuk mengejar passion mereka tanpa batas.
Pewarta: Nandar Suyadi

