RI News Portal. Limapuluh Kota, 11 Januari 2026 – Fenomena lubang raksasa yang tiba-tiba muncul di Jorong Tepi, Situjuah Batuah, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, langsung menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. Sinkhole ini, yang ditemukan akhir pekan lalu, tidak hanya menarik minat warga setempat karena airnya yang berwarna biru kebiruan, tapi juga memicu kekhawatiran atas risiko geologis yang lebih luas. Dalam respons cepat, Pemkab Limapuluh Kota segera melibatkan Badan Geologi Bandung untuk melakukan analisis mendalam guna memetakan kondisi tanah dan potensi bahaya tambahan.
Menurut Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota, Rahmadinol, langkah-langkah antisipatif telah diambil sejak kejadian pertama kali dilaporkan. “Kami tidak menunggu lama. Koordinasi langsung dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Lingkungan Hidup, untuk memastikan keamanan masyarakat,” katanya dalam wawancara khusus. Ia menjelaskan bahwa tim telah menguji kualitas air di lokasi tersebut, terutama karena ada warga yang menggunakannya untuk keperluan pengobatan tradisional. Hasil uji laboratorium menunjukkan kadar air masih dalam batas aman, meski pemerintah tetap menekankan agar masyarakat menghindari penggunaan sembarangan.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah pencegahan korban jiwa. Rahmadinol mengungkapkan bahwa koordinasi intensif melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan seluruh perangkat daerah terkait. Berdasarkan evaluasi awal dari tim geologi, ada indikasi potensi amblasan lanjutan yang dipicu oleh aliran air yang meluber dari sinkhole. “Debit airnya relatif sedang, tidak tergolong besar. Tapi yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan ini berkembang menjadi genangan permanen seperti danau kecil,” tambahnya. Oleh karena itu, imbauan tegas dikeluarkan: warga dilarang mendekati area sinkhole hingga kajian resmi selesai, yang akan menjadi acuan untuk strategi penanganan lebih lanjut.

Fenomena ini, yang sering dikaitkan dengan proses geologis alamiah, mendapat penjelasan ilmiah dari Adrin Tohari, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Adrin menekankan bahwa warna biru pada air sinkhole berasal dari interaksi alami antara air dan batuan kapur di kawasan tersebut. “Daerah ini memang kaya akan formasi batu gamping yang mampu menyaring air secara efektif. Warna biru itu muncul karena proses sedimentasi dan filtrasi yang terjadi seiring waktu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa air tersebut bukanlah sumber baru atau memiliki khasiat khusus seperti yang mungkin dibayangkan sebagian warga. Sebaliknya, air itu telah lama terperangkap di rongga bawah tanah sebelum sinkhole terbentuk akibat amblasnya lapisan atas.
Adrin juga menguraikan mekanisme pembentukan sinkhole sebagai proses biasa di wilayah karst seperti Sumatra Barat. “Ini bukan sesuatu yang aneh atau luar biasa. Lubang terbentuk ketika tanah atas runtuh ke rongga kosong di bawahnya, sering kali dipengaruhi oleh erosi air tanah,” katanya. Meski demikian, ia menyarankan agar pemerintah daerah tidak meremehkan risiko jangka panjang, seperti perubahan hidrologi yang bisa memicu longsor atau banjir lokal. Kajian dari Badan Geologi Bandung diharapkan memberikan data empiris untuk mitigasi, termasuk pemantauan kontinu dan edukasi komunitas.
Kasus sinkhole di Limapuluh Kota ini menjadi pengingat akan kerentanan geologis di Sumatra Barat, di mana formasi karst sering kali menjadi pemicu bencana alam. Pemerintah daerah kini berharap hasil kajian mendalam segera dirilis, sehingga langkah pencegahan bisa diimplementasikan secara efektif. Sementara itu, warga diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan resmi, agar fenomena yang tampak menarik ini tidak berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan.
Pewarta : Hermanto

