RI News Portal. Tegal 3 Januari 2026 – Di tengah dinamika perubahan iklim yang semakin tidak terprediksi, upaya kolaboratif antara institusi keamanan dan komunitas lokal menjadi kunci dalam membangun ketahanan lingkungan. Sebuah inisiatif konkret terlihat pada Sabtu, 3 Januari 2026, ketika Polsek Bumijawa, bekerja sama dengan pemerintah kecamatan, desa, relawan, dan warga setempat, melaksanakan kerja bakti pemasangan bronjong di sepanjang aliran Sungai Pedes, tepatnya di Dukuh Glempang, RT 002 RW 005, Desa Dukuhbenda, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal.
Kegiatan ini, yang berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga siang hari, menekankan pada penggunaan bronjong sederhana berbahan bambu yang diisi dengan batu kali. Pendekatan ini bukan sekadar respons darurat, melainkan strategi preventif yang didasarkan pada pemahaman ilmiah tentang dinamika hidrologi sungai. Abrasi tebing sungai, seperti yang terjadi pada 24 Desember 2025 akibat arus air deras, sering kali dipicu oleh kombinasi faktor seperti curah hujan tinggi, deforestasi hulu sungai, dan perubahan pola aliran akibat aktivitas manusia. Menurut penelitian dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Indonesia, teknik bronjong tradisional seperti ini dapat mengurangi laju erosi hingga 40-60 persen di sungai-sungai tropis, dengan memanfaatkan bahan lokal yang ramah lingkungan dan murah biaya.
Dipimpin oleh Kapolsek Bumijawa IPTU Sugiarto beserta anggotanya, kegiatan ini melibatkan staf kecamatan, tim relawan pencarian dan penyelamatan, kepala desa Dukuhbenda serta perangkatnya, dan puluhan warga. Semangat gotong royong yang terpancar mencerminkan nilai budaya Indonesia yang telah terbukti efektif dalam penanganan bencana, sebagaimana dibahas dalam jurnal antropologi sosial yang menyoroti bagaimana praktik kolaboratif semacam ini memperkuat ikatan sosial dan mengurangi kerentanan komunitas terhadap ancaman alam.

Selama proses, pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat disisipkan, dengan penekanan pada kewaspadaan terhadap bencana alam di musim hujan. Pendekatan edukatif ini selaras dengan rekomendasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, yang menganjurkan integrasi kesadaran risiko dalam kegiatan sehari-hari untuk membangun masyarakat yang resilien. Warga diingatkan untuk segera melaporkan tanda-tanda darurat, seperti retakan tebing atau kenaikan debit air, guna memungkinkan intervensi cepat.
Meskipun hujan deras memaksa penghentian lebih awal, kegiatan berjalan lancar tanpa insiden, menunjukkan koordinasi yang matang. Kapolres Tegal AKBP Bayu Prasatyo, S.H., S.I.K., M.H., dalam pernyataannya, menekankan bahwa inisiatif ini merupakan manifestasi kehadiran institusi keamanan di masyarakat, bukan hanya dalam penegakan hukum tapi juga dalam pencegahan bencana. “Kerja bakti ini bukan hanya tentang membangun struktur fisik, tapi juga tentang menanamkan rasa aman dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan,” katanya, seraya mengajak peningkatan kewaspadaan di tengah pola cuaca yang fluktuatif.
Baca juga : Pembinaan Karier Internal Polri: Kenaikan Pangkat 53 Personel di Satuan Kepolisian Resor Sintang
Dari perspektif akademis, kegiatan semacam ini dapat dijadikan model untuk studi kasus mitigasi bencana berbasis komunitas. Analisis dari perspektif ekologi politik menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, kepolisian, dan masyarakat tidak hanya mengatasi masalah jangka pendek seperti abrasi, tapi juga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Di wilayah seperti Bumijawa, yang rentan terhadap banjir musiman, pendekatan ini potensial mengurangi dampak ekonomi dan sosial, seperti hilangnya lahan pertanian atau pemindahan penduduk.
Akhirnya, kegiatan ini memperkuat narasi bahwa pencegahan bencana bukanlah tugas tunggal institusi, melainkan tanggung jawab kolektif. Dengan demikian, diharapkan terbentuk pola kerjasama yang lebih kuat, tidak hanya di Bumijawa tapi juga di daerah-daerah serupa di Indonesia, untuk menghadapi tantangan lingkungan di era perubahan iklim.
Pewarta : Ikhwanudin

