RI News Portal. Jakarta 7 Januari 2026 – Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sejak akhir November 2025 telah meninggalkan dampak mendalam. Hingga awal Januari 2026, data resmi menunjukkan sedikitnya 1.177 korban jiwa, dengan ribuan lainnya terluka, mengungsi, atau kehilangan mata pencaharian. Skala kerusakan yang melumpuhkan puluhan kabupaten dan kota ini menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak dapat bergantung sepenuhnya pada upaya pemerintah saja.
Dalam konteks ini, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial, Nunung Nuryantono, menyoroti urgensi kolaborasi yang lebih mendalam antara aparatur negara dan lembaga-lembaga filantropi. “Bantuan sosial konvensional saja tidak cukup; diperlukan pendekatan pemberdayaan yang berkelanjutan untuk mempercepat proses pemulihan,” ujarnya dalam sebuah pernyataan di Jakarta baru-baru ini. Ia menekankan bahwa kehadiran filantropi dapat menjadi katalisator utama dalam memulihkan kondisi sosial-ekonomi di tiga provinsi tersebut, terutama mengingat luasnya wilayah terdampak yang mencapai lebih dari 50 kabupaten/kota.

Pendekatan ini selaras dengan transisi dari fase tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi. Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) dijadwalkan mulai diimplementasikan pada 9 Januari 2026, dengan prioritas awal di Sumatera Barat, diikuti Sumatera Utara, dan Aceh sebagai wilayah dengan dampak paling berat. Koordinasi terarah menjadi elemen krusial, khususnya dalam aspek pemberdayaan masyarakat, di mana filantropi diharapkan berperan aktif tanpa tumpang tindih dengan program pemerintah.
Analisis lebih lanjut mengungkap tantangan struktural yang mendasari kerentanan ini. Degradasi hutan di daerah aliran sungai (DAS) telah mengurangi daya dukung lingkungan, sehingga curah hujan ekstrem dengan cepat bertransformasi menjadi bencana masif. Di samping itu, risiko peningkatan angka kemiskinan—termasuk kemiskinan ekstrem—menjadi ancaman jangka panjang bagi masyarakat terdampak. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor tidak hanya diperlukan untuk pemulihan fisik, tetapi juga untuk membangun resiliensi ekonomi dan sosial yang lebih kuat.
Baca juga : Rutinitas Kebersihan Koramil Jajaran Kodim 0728/Wonogiri: Membangun Disiplin dan Kepedulian Lingkungan
Nunung Nuryantono mengajak semua pihak untuk memperkuat komitmen bersama. “Kita perlu terlibat aktif dalam program-program terencana, sehingga masyarakat di wilayah terdampak dapat kembali menjalani kehidupan yang bermartabat,” tuturnya. Pendekatan ini mencerminkan paradigma baru dalam penanggulangan bencana di Indonesia: dari respons reaktif menuju strategi proaktif yang mengintegrasikan pemberdayaan sebagai inti pemulihan.
Pemulihan pascabencana di Sumatera bukan sekadar rekonstruksi infrastruktur, melainkan upaya kolektif untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap ancaman hidrometeorologi di masa depan. Sinergi antara pemerintah dan filantropi, jika dikoordinasikan dengan baik, berpotensi menjadi model efektif yang dapat direplikasi di wilayah rawan bencana lainnya.
Pewarta : Yudha Purnama

