RI News. Wonogiri – Percepatan pembangunan nasional, program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) menjadi bukti nyata harmoni antara angkatan bersenjata dan masyarakat sipil. Edisi ke-127 yang digelar oleh Kodim 0728/Wonogiri ini tidak hanya sekadar rutinitas, melainkan manifestasi filosofi kemanunggalan yang telah lama menjadi pondasi ketahanan bangsa. Di Desa Kembang, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, semangat gotong royong ini terwujud dalam pembangunan infrastruktur vital yang mendukung ketahanan komunal terhadap bencana alam.
Pembukaan resmi program pada Selasa, 10 Februari 2026, oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, menandai dimulainya serangkaian aksi kolaboratif. Fokus utama kali ini tertuju pada pembangunan talud masjid setempat, dengan dimensi panjang 13 meter dan tinggi 2,5 meter. Struktur ini bukan hanya elemen arsitektur, melainkan benteng pertahanan strategis yang dirancang untuk menangkal risiko longsor selama musim penghujan yang kerap mengancam wilayah perbukitan Wonogiri. Melalui pendekatan ini, TMMD tidak hanya membangun fisik, tetapi juga memperkuat resiliensi sosial-ekonomi masyarakat pedesaan, yang sering kali menjadi korban pertama perubahan iklim.

Anggota Satuan Tugas (Satgas) TMMD, dibantu warga setempat, bekerja bahu-membahu dalam ritme yang terkoordinasi. Setiap hari, proses pengangkutan material seperti batu dan semen dilakukan secara bergantian, diikuti dengan pembuatan pondasi yang mengandalkan keterampilan kolektif. Pendekatan ini mencerminkan prinsip sinergi militer-sipil, di mana keahlian teknis TNI digabungkan dengan pengetahuan lokal warga, menghasilkan efisiensi yang optimal. Hasilnya, pembangunan tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan, karena melibatkan transfer pengetahuan yang memperkuat kapasitas masyarakat dalam jangka panjang.
Kapten Inf Budiono, selaku Danramil Jatipurno, menekankan pentingnya komitmen bersama dalam mencapai target. “Semua sasaran harus rampung sebelum penutupan TMMD, terutama pembangunan talud dan jalan sebagai sasaran utama,” katanya saat ditemui pada Minggu, 22 Februari 2026. Ia menambahkan bahwa kekompakan antara Satgas dan warga adalah kunci akselerasi, dengan anggota yang telah terbiasa mengukur ritme kerja untuk memastikan penyelesaian tepat waktu. “Saya yakin seluruh anggota Satgas TMMD bersama warga sudah terbiasa dan profesional dalam bekerja. Mereka tahu cara memperkirakan waktu dan ritme kerja agar semua sasaran selesai tepat waktu. Terus kebut pekerjaan dan tetap semangat,” pungkasnya, mencerminkan optimisme yang berbasis pengalaman lapangan.
Baca juga : 1.000 Porsi Opor: TNI dan Warga Kebumen Menyatu dalam Kehangatan Gotong Royong
Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, inisiatif ini mengilustrasikan bagaimana integrasi militer dalam pembangunan sipil dapat menjadi model untuk daerah lain di Indonesia. Di Wonogiri, yang dikenal dengan topografi bergunung dan tantangan aksesibilitas, program semacam ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan warga melalui sarana yang lebih aman, tetapi juga mempererat ikatan sosial yang esensial untuk stabilitas nasional. Dengan demikian, TMMD ke-127 ini bukan akhir, melainkan langkah berkelanjutan menuju masyarakat yang lebih mandiri dan tangguh.
Pewarta: Nandar Suyadi

