RI News. Trenggalek – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Sekretariat Kadang DEKAT saat Perkerisan Adicitra Nusantara menggelar Sarasehan Perkerisan pada malam hari. Kegiatan yang dimulai tepat pukul 20.00 WIB ini berhasil mempertemukan puluhan pegiat dan pemerhati budaya keris dari berbagai komunitas di wilayah Trenggalek serta sekitarnya.
Meskipun peserta berasal dari latar belakang organisasi dan kelompok yang berbeda-beda, diskusi berlangsung dengan penuh keakraban, keterbukaan, serta saling menghormati. Semangat persatuan menjadi nuansa dominan sepanjang acara, membuktikan bahwa keragaman wadah atau komunitas tidak menjadi penghalang bagi upaya bersama menjaga warisan leluhur.
Acara ini dipandu langsung oleh jajaran pengurus Perkerisan Adicitra Nusantara, yakni Kang Mas Rakyan Umbara, Kang Mas Abas, serta Ni Mas Maya. Mereka memfasilitasi dialog yang mendalam mengenai cara merawat pusaka tosan aji secara bijaksana dan bertanggung jawab, memperdalam pemahaman filosofis serta teknis tentang keris, serta membangun sinergi antar-komunitas perkerisan di kawasan tersebut.

Lebih dari sekadar pertemuan rutin, sarasehan ini menjadi tonggak penting dalam upaya konsolidasi budaya. Para peserta saling bertukar gagasan, mempererat tali silaturahmi, dan meneguhkan komitmen kolektif untuk mempertahankan martabat keris sebagai elemen inti identitas kebangsaan Nusantara.
Pengurus Perkerisan Adicitra Nusantara menyatakan tekad kuat untuk terus menyediakan forum-forum diskusi dan pendidikan yang terbuka serta inklusif. Tujuannya agar pengetahuan dan nilai-nilai luhur seputar tosan aji tidak sekadar menjadi kenangan masa lalu, melainkan dipahami secara mendalam, dirawat dengan baik, serta diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi mendatang.
Baca juga : Tragedi di Balik Dinding Pesantren: Kematian Santri 11 Tahun Picu Penyelidikan Mendalam Polisi Wonogiri
Sebagaimana disampaikan dalam penutup acara, “Kuncaraning bangsa dumunung haneng luhuring budaya.” Kemuliaan sebuah bangsa terletak pada keluhuran budayanya.
Kegiatan semacam ini diharapkan menjadi model bagi gerakan pelestarian budaya lainnya, di mana keberagaman justru menjadi kekuatan untuk menjaga warisan tak benda yang telah diakui dunia.
Pewarta: Sugeng

