RI News Portal. Klaten 18 Januari 2026 – Pemandangan damai dan mengharukan terpampang di lereng lereng Merapi, Sabtu malam (17/1/2026), ketika ribuan umat Hindu memadati kawasan Candi Merak, Karangnongko, Klaten, untuk merayakan Malam Siwaratri. Tradisi tahunan ini, yang menjadi momen introspeksi dan peleburan dosa, tahun ini menunjukkan lonjakan partisipasi luar biasa, hingga pelataran candi yang biasanya menjadi pusat persembahyangan tidak lagi mampu menampung seluruh jamaah yang datang dari berbagai daerah.
Melihat antusiasme yang membuncah tersebut, Pondok Pesantren Mangku Candi Alas Lami—yang berlokasi bersebelahan dengan candi—langsung mengambil inisiatif. Pengelola pesantren membuka Joglo utama sebagai tempat tambahan untuk persembahyangan dan istirahat bagi umat Hindu yang meluber. Di bawah cahaya redup lampu Joglo bercampur aroma dupa yang mengepul dari arah candi, suasana malam itu menjadi simbol nyata harmoni lintas keyakinan di tengah masyarakat setempat.
Acara ini semakin memperkuat citra Klaten sebagai ruang hidup toleransi beragama. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang, melainkan justru menyatukan doa-doa untuk kesejahteraan bersama dan perdamaian negeri.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Klaten, Sugeng Sapta Wahyasa, menyatakan bahwa perayaan Siwaratri tahun ini terasa istimewa karena tingginya semangat kebersamaan. “Siwaratri merupakan malam perenungan atas dosa-dosa yang telah dilakukan, waktu bagi umat untuk melakukan introspeksi mendalam guna mengubah kegelapan batin menjadi cahaya pengetahuan spiritual. Melalui brata atau pantangan ketat, termasuk jagra—tidak tidur semalaman—kita diajak untuk lebih waspada dan sadar dalam menjalani kehidupan sehari-hari,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (18/1/2026).
Lebih lanjut, Sugeng menekankan bahwa esensi Siwaratri bukan sekadar ritual formal. “Kehadiran dan dukungan dari saudara-saudara di pesantren yang menyediakan tempat bagi kami malam ini adalah manifestasi nyata dari terang pengetahuan itu sendiri, yakni kasih sayang dan kepedulian antarsesama manusia,” tambahnya.
Baca juga : Padang Perluas Akses Pendidikan Internasional melalui Kerja Sama dengan Guangdong
Pengasuh Pondok Pesantren Mangku Candi Alas Lami sekaligus Pembina Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Klaten, KH M Jazuli A Kasmani—yang akrab disapa Gus Jaz—menjelaskan bahwa kolaborasi semacam ini bukan hal baru, melainkan penguatan dari akar persaudaraan yang telah lama terjalin di Karangnongko. “Kehadiran pesantren di tengah masyarakat harus memberikan manfaat nyata. Malam ini, kami membuka Joglo untuk menampung limpahan umat yang tidak kebagian tempat di candi. Kami ingin membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi jembatan dan perantara bagi semua elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama,” katanya.
Menurut Gus Jaz, kunci harmoni ini terletak pada niat tulus dan langkah nyata. “Bibit kebersamaan sudah ada di mana-mana, tetapi perlu ada penggerak. Malam ini, kami mengajak para tokoh desa dan kecamatan untuk menjadi among tamu—penyambut tamu—bagi saudara-saudara Hindu yang datang dari jauh. Ini bukan sekadar acara, melainkan visi bersama untuk hidup berdampingan secara damai,” tegasnya.

Apresiasi juga datang dari Rektor Universitas Tidar Magelang, Prof Sugiyarto, yang hadir langsung menyaksikan peristiwa tersebut. Ia menyebut fenomena di Karangnongko sebagai potret autentik keindonesiaan. “Ini sangat positif bagi bangsa kita dalam menghargai keberagaman. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan; ketika nilai-nilai luhur itu diwujudkan seperti malam ini, inilah Indonesia sesungguhnya,” ungkap Prof Sugiyarto.
Ia meyakini model kolaborasi seperti ini dapat direplikasi di berbagai daerah lain, asalkan didukung kesadaran tokoh masyarakat dan saluran komunikasi yang efektif. “Setiap wilayah memiliki kekhasan sendiri, tetapi semangat saling menghormati perbedaan adalah nilai universal yang bisa dikembangkan di mana saja,” pungkasnya.
Perayaan Siwaratri di Candi Merak tahun ini tidak hanya menjadi ritual spiritual bagi umat Hindu, tetapi juga pengingat bagi semua pihak bahwa toleransi sejati lahir dari tindakan nyata, bukan sekadar slogan. Di tengah tantangan keberagaman zaman sekarang, inisiatif sederhana seperti membuka pintu Joglo pesantren bagi sesama umat manusia menjadi bukti bahwa harmoni tetap mungkin dibangun dari level paling akar masyarakat.
Pewarta : Rendro P

