RI News Portal. Jakarta – Di tengah tantangan kesehatan nasional yang semakin kompleks, pemerintah Indonesia sedang menggagas langkah ambisius untuk mengatasi defisit tenaga medis. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa ekspansi fakultas kedokteran baru menjadi kunci utama dalam menyelesaikan dua isu krusial: kekurangan jumlah dokter secara keseluruhan dan ketidakmerataan distribusi mereka di berbagai wilayah tanah air. Pernyataan ini disampaikan Budi di Jakarta pada Kamis, menyoroti urgensi peningkatan produksi dokter hingga tiga kali lipat dari kondisi saat ini, tanpa mengorbankan standar pendidikan.
Fenomena dokter yang berpraktik di hingga tiga lokasi sekaligus, menurut Budi, menjadi indikasi nyata dari kelangkaan sumber daya manusia di sektor kesehatan. “Jadi kira-kira kalau saya bilang ya harus tiga kali lipat lah naiknya jumlahnya. Nah caranya gimana? Ya Pak Prabowo juga udah lihat itu, bahwa jumlahnya kurang. Kita harus memang buka yang lebih banyak supaya orang-orang bisa masuk. Tanpa mengurangi kualitas,” ujarnya, menekankan kolaborasi dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan nasional.

Optimisme Budi didasari pada perbandingan internasional, khususnya dengan Korea Selatan, yang meskipun memiliki populasi hanya seperenam atau seperlima dari Indonesia, berhasil menghasilkan lebih banyak dokter spesialis. Ia berharap Indonesia dapat mencapai rasio dokter umum setidaknya satu per seribu penduduk, yang setara dengan 280 ribu dokter untuk mendekati standar negara berpenghasilan menengah bawah. “Kan itu kan jadi 280 ribu, itu kan rata-rata lower middle income country ya. Tapi kalau rata-rata dunia kan 1,76 per seribu,” tambahnya, sambil menyerahkan detail kalkulasi pembukaan kampus baru kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Langkah ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo dalam taklimat bersama ribuan pimpinan perguruan tinggi di Jakarta baru-baru ini. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa diskusi tersebut menyoroti kekurangan lebih dari 100 ribu dokter, berdasarkan data pemerintah, yang menghambat pelayanan kesehatan masyarakat. Presiden mendorong inovasi terobosan, tidak hanya melalui peningkatan jumlah lulusan, tetapi juga penguatan kualitas pendidikan secara holistik—meliputi peningkatan kompetensi dosen serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.
Baca juga : Warisan Emas Sumatra: Buku ‘Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri’ Jadi Pilar Dokumentasi Budaya Nasional
Dalam konteks akademis, inisiatif ini mencerminkan pendekatan sistemik terhadap reformasi pendidikan kedokteran, di mana ekspansi institusi harus diimbangi dengan pengawasan ketat untuk menjaga integritas kurikulum. Para pakar kesehatan publik menilai bahwa strategi ini berpotensi mengubah lanskap medis nasional, asalkan didukung oleh kebijakan distribusi yang adil, seperti insentif untuk penempatan di daerah terpencil. Namun, tantangan utama tetap pada pemastian bahwa peningkatan kuantitas tidak menggerus kualitas, sehingga menghasilkan generasi dokter yang kompeten dan siap menghadapi dinamika kesehatan global.
Dengan momentum ini, pemerintah berupaya membangun fondasi kesehatan yang lebih inklusif, di mana akses layanan medis merata menjadi prioritas utama. Harapannya, dalam waktu dekat, Indonesia dapat menyamai atau bahkan melampaui standar internasional, mengubah defisit menjadi surplus tenaga medis yang berkualitas.
Pewarta : Diki Eri

