RI News. Houston, 9 April 2026 – Dalam perjalanan pulang setelah berhasil melintasi Bulan, empat astronot misi Artemis II NASA melakukan komunikasi radio langsung pertama dalam sejarah antara pesawat luar angkasa di dekat Bulan dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Peristiwa ini terjadi pada Selasa (8 April 2026) dan menandai tonggak baru dalam kolaborasi antar misi luar angkasa manusia.
Komandan misi Reid Wiseman menyampaikan kegembiraan yang mendalam melalui saluran radio: “Kami sudah menantikan momen ini melebihi yang bisa dibayangkan.” Sambungan tersebut menghubungkan Artemis II dengan kru ISS yang terdiri dari tiga astronot NASA dan satu astronot Prancis, pada jarak sekitar 370.000 kilometer.
Bagi Christina Koch dari Artemis II dan Jessica Meir di ISS, percakapan ini terasa sangat istimewa. Keduanya pernah menjadi tim pertama yang melakukan aktivitas luar angkasa (spacewalk) seluruh perempuan pada 2019. Koch mengungkapkan harapannya untuk bertemu kembali di luar angkasa, meski tidak pernah membayangkan akan terjadi dalam situasi seperti ini. “Ini luar biasa,” katanya. Meir menjawab dengan penuh sukacita bahwa ia senang mereka kembali berada di luar angkasa bersama, meskipun terpisah jauh.

Dari perspektif ilmiah, percakapan ini tidak hanya emosional, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang perspektif manusia terhadap planet asal. Koch menggambarkan rasa takjubnya melihat Bumi dari dekat Bulan, bukan hanya karena keindahannya, melainkan juga karena luasnya kegelapan ruang angkasa di sekelilingnya. “Hal itu menekankan betapa miripnya kita semua sebagai manusia, dan betapa satu hal yang sama—yaitu Bumi—yang menjaga kehidupan setiap orang di planet ini,” ujarnya. Pandangan dari jauh tersebut, menurutnya, semakin menonjolkan keistimewaan dan kerapuhan rumah kita bersama.
Selain komunikasi bersejarah tersebut, tim Artemis II telah mengirimkan lebih dari 50 gigabyte data dan foto berkualitas tinggi dari flyby Bulan. Salah satu sorotan utama adalah foto Earthset (Bumi terbenam di balik horizon Bulan), yang mengingatkan pada foto ikonik Earthrise dari misi Apollo 8 tahun 1968. Ilmuwan utama misi lunar NASA, Kelsey Young, menjelaskan bahwa meskipun gambar-gambar tersebut sangat inspiratif, di dalamnya juga terkandung data ilmiah penting yang akan terus dianalisis.
Para astronot juga melaporkan pengamatan menarik berupa kilatan cahaya kecil di permukaan Bulan akibat hantaman partikel kosmik. Kilatan tersebut berlangsung hanya beberapa milidetik dan kebetulan terjadi bersamaan dengan gerhana matahari total. Para ilmuwan masih mempelajari apakah ini merupakan hujan meteor atau hantaman mikrometeoroid biasa.
Misi Artemis II, yang merupakan uji coba tanpa pendaratan di Bulan ini, menjadi yang pertama membawa manusia melampaui orbit Bumi sejak Apollo 17 tahun 1972. Kru yang terdiri dari Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen (dari Badan Antariksa Kanada) dijadwalkan mendarat di Samudra Pasifik dekat pantai San Diego pada Jumat mendatang.
Administrator NASA Jared Isaacman menyatakan bahwa secara keseluruhan misi berjalan lancar, meski terdapat kendala teknis kecil pada sistem toilet kapsul Orion yang memerlukan perbaikan sebelum misi berikutnya. Ia menekankan pentingnya menyelesaikan fase masuk kembali ke atmosfer Bumi dengan selamat.
Keberhasilan Artemis II membuka jalan bagi Artemis III tahun depan, yang akan mencakup demonstrasi docking pesawat pendarat Bulan di orbit Bumi, serta Artemis IV pada 2028 yang direncanakan membawa astronot mendarat di dekat Kutub Selatan Bulan.
Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan kemajuan teknologi luar angkasa, tetapi juga mengingatkan kembali pada nilai persatuan manusia di hadapan luasnya alam semesta. Dengan semakin dekatnya era eksplorasi Bulan yang berkelanjutan, misi seperti Artemis II menjadi fondasi penting bagi pemahaman ilmiah dan visi jangka panjang umat manusia di luar Bumi.
Pewarta : Vie

