RI News Portal. Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, secara tegas menargetkan penyelesaian normalisasi Kali Cakung Lama di Rawa Indah, Cilincing, Jakarta Utara, pada akhir 2027. Komitmen jangka menengah ini dikemukakannya setelah melakukan peninjauan langsung terhadap progres pengerukan di lokasi, Selasa lalu. Proyek ini dinilai sebagai salah satu kunci strategis dalam upaya sistematis pengendalian banjir di wilayah utara Jakarta.
“Kami akan melanjutkan normalisasi Kali Cakung Lama ini dan mudah-mudahan dapat selesai hingga akhir tahun 2027,” tegas Pramono di Jalan Lestari VII, Kelurahan Pegangsaan Dua. Ia menekankan pendekatan holistik dalam pengerjaan proyek ini. “Saya memutuskan pengerjaan ini tidak boleh dilakukan sepotong-sepotong. Harus diselesaikan hingga tuntas, karena dampaknya akan sangat besar bagi wilayah yang selama ini terdampak banjir.”
Proyek Strategis dengan Skala Besar
Kali Cakung Lama Rawa Indah, dengan panjang sekitar 8,5 kilometer yang terbagi dalam 17 segmen, telah lama menjadi perhatian akibat sedimentasi yang mengurangi kapasitas tampung air. Proses normalisasi yang dimulai Oktober 2024 ini menargetkan pengangkatan sekitar 45.000 meter kubik material endapan. Hingga saat ini, sekitar 29% dari target atau setara dengan 13.000 meter kubik telah berhasil dikeruk dengan melibatkan lima unit alat berat dan lima unit dump truck.

Pramono menjelaskan, normalisasi secara rutin ini crucial untuk menjaga kelancaran aliran air, terlebih dalam menghadapi fenomena cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang kian sering melanda Ibu Kota.
Dampak Multi-Wilayah dan Penanganan Titik Kritis
Gubernur memaparkan bahwa keberhasilan proyek ini bukan hanya bermanfaat bagi Cilincing, tetapi akan memberikan dampak signifikan bagi daerah-daerah yang menjadi langganan banjir di sekitarnya, seperti Kelapa Gading, Koja, Sukapura, hingga Semper Barat. Aliran air yang lancar dari hulu diharapkan dapat meredam genangan di wilayah hilir yang lebih padat penduduk.
Lebih lanjut, Pramono menyoroti persoalan struktural di hilir, yaitu adanya bottleneck atau penyempitan aliran, khususnya di area Sungai Begog. Untuk mengatasinya, Pemprov DKI berencana melakukan pelebaran saluran hingga mencapai lebar 15 meter. “Lebih baik muara sungai dibuat lebih lebar agar aliran air tidak terhambat,” ujarnya.
Rencana pelebaran ini kemungkinan akan diikuti dengan pembangunan jalan inspeksi dan proses pembebasan lahan jika diperlukan. Pramono menegaskan bahwa langkah apapun akan ditempuh sesuai dengan ketentuan dan regulasi yang berlaku.
Baca juga : Babinsa Gunungkidul Gencarkan Doktrin “Pangan B2SA” untuk Bentengi Generasi Penerus
Target penyelesaian tahun 2027 menempatkan proyek ini dalam peta program pengendalian banjir jangka menengah DKI Jakarta. Rentang waktu tiga tahun ini menyisakan sejumlah pertanyaan kritis dari para pengamat tata air dan lingkungan. Pertama, mengenai konsistensi anggaran dan kesinambungan program melampaui siklus politik. Kedua, terkait koordinasi lintas wilayah dan kesiapan menangani dampak sosial seperti pembebasan lahan. Ketiga, kemampuan mitigasi terhadap potensi sedimentasi ulang yang cepat akibat erosi dari daerah penyangga.
Pendekatan “tuntas, tidak sepotong-sepotong” yang diusung Gubernur patut diapresiasi sebagai langkah korektif dari praktik normalisasi parsial di masa lalu. Namun, efektivitasnya baru akan teruji ketika seluruh rangkaian pekerjaan, dari pengerukan, pelebaran, hingga pemeliharaan berkala, dapat diimplementasikan secara konsisten dan terintegrasi dengan program sodetan dan normalisasi sungai-sungai utama lainnya di Jakarta.
Proyek normalisasi Kali Cakung Lama Rawa Indah kini menjadi salah satu barometer keseriusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun ketahanan hidrologis Ibu Kota. Keberhasilannya akan diukur bukan hanya dari volume tanah yang dikeruk, tetapi dari berkurangnya titik genangan dan rasa aman warga yang dihasilkan pada musim hujan mendatang.
Pewarta : Diki Eri

