RI News. Yerusalem —Rekaman video yang baru beredar memperlihatkan rudal jelajah Tomahawk menghantam kompleks militer Garda Revolusi Iran di Minab, hanya beberapa meter dari gedung Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebeh. Serangan pada 28 Februari 2026 itu menewaskan sedikitnya 165–175 orang, mayoritas anak perempuan usia sekolah dasar, menurut laporan otoritas Iran. Analisis independen oleh pakar senjata dan citra satelit menunjukkan bahwa senjata tersebut hampir pasti berasal dari arsenal Amerika Serikat—satu-satunya pihak dalam konflik saat ini yang diketahui memiliki dan menggunakan rudal jenis itu.
Rekaman berdurasi pendek, yang pertama kali disebarkan oleh kantor berita Mehr pada akhir pekan lalu, diabadikan dari lokasi terdekat saat serangan berlangsung. Asap hitam tebal terlihat mengepul dari arah sekolah sesaat setelah rudal mengenai target. Pakar dari kelompok investigasi open-source mengonfirmasi kesesuaian lokasi melalui perbandingan dengan citra satelit: bangunan atap datar, jaringan kabel listrik, serta pola kendaraan di kompleks tersebut identik dengan rekaman. Identifikasi senjata oleh analis munitions mengarah pada Tomahawk (BGM/UGM-109), rudal presisi jarak jauh yang diluncurkan dari kapal perang atau kapal selam.

Komando Pusat AS (CENTCOM) sebelumnya mengakui penggunaan Tomahawk dalam operasi awal konflik, termasuk merilis dokumentasi peluncuran dari kapal perusak USS Spruance—bagian dari kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln yang beroperasi dalam jangkauan wilayah Hormozgan. Fokus serangan AS pada target angkatan laut IRGC di provinsi selatan itu selaras dengan lokasi sekolah yang bersebelahan dengan pangkalan angkatan laut Garda Revolusi. Sebaliknya, Israel—yang juga terlibat dalam serangan udara—telah menyangkal keterlibatan di wilayah selatan Iran dan lebih memusatkan operasi di zona utara hingga tengah negara itu.
Presiden AS Donald Trump, dalam beberapa pernyataan publik, menolak tuduhan keterlibatan Amerika dan justru menuding Iran sebagai pelaku. Ia mengklaim bahwa rudal Tomahawk “bisa dimiliki dan digunakan oleh negara lain, termasuk Iran,” meski tidak ada bukti kredibel bahwa Tehran pernah memperoleh senjata itu—baik melalui transfer resmi maupun saluran gelap—mengingat embargo senjata ketat terhadap Iran. Pernyataan tersebut menuai kritik karena bertentangan dengan konsensus pakar bahwa Tomahawk tetap eksklusif milik AS dan sekutu dekatnya seperti Jepang serta Australia.
Baca juga : Eskalasi di Selat Hormuz: Bagaimana Serangan Balasan Iran Mengubah Lanskap Keamanan Energi Global
Penilaian internal militer AS dikabarkan telah dimulai sesuai prosedur mitigasi kerugian sipil Pentagon, yang biasanya dipicu ketika ada indikasi awal tanggung jawab pihak sendiri. Sementara itu, pakar hukum internasional seperti Janina Dill dari Universitas Oxford menegaskan bahwa meski terjadi kesalahan identifikasi target—misalnya mengira bangunan sekolah sebagai bagian integral pangkalan militer—serangan semacam itu tetap merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional. Prinsip pembedaan, proporsionalitas, dan kehati-hatian dalam verifikasi target wajib dipenuhi sepenuhnya sebelum peluncuran senjata.
Kurangnya akses bagi investigator independen ke lokasi membuat rekonstruksi forensik sulit dilakukan. Pecahan rudal yang dipamerkan media Iran menunjukkan ciri-ciri manufaktur AS, tetapi belum diverifikasi secara netral. Di tengah pernyataan pejabat tinggi AS yang menekankan “kampanye udara paling presisi dan mematikan dalam sejarah” serta penolakan terhadap “aturan keterlibatan yang membatasi,” insiden Minab menimbulkan pertanyaan mendasar: sejauh mana pertimbangan sipil diutamakan dalam strategi militer saat ini?
Hingga kini, baik CENTCOM maupun militer Israel belum memberikan tanggapan resmi atas temuan video terbaru. Sementara jumlah korban sipil terus menjadi sorotan dunia, insiden ini berpotensi menjadi titik balik dalam perdebatan tentang akuntabilitas dalam konflik bersenjata modern.
Pewarta : Setiawan Wibisono

