RI News Portal. Washington — Di tengah ketegangan yang semakin memanas dengan Teheran, Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa perubahan kepemimpinan di Iran merupakan “hal terbaik yang bisa terjadi” bagi kawasan tersebut. Pernyataan ini disampaikan Jumat lalu (13 Februari 2026) usai kunjungannya ke pasukan di Fort Bragg, North Carolina, sekaligus mengonfirmasi pengiriman kelompok kapal induk kedua ke Timur Tengah.
Trump menekankan bahwa selama hampir setengah abad, pemerintahan ulama di Iran hanya “berbicara tanpa henti” tanpa hasil nyata. Komentar ini muncul saat pemerintahan AS sedang menimbang opsi militer sambil tetap membuka jalur diplomasi tidak langsung melalui perantara di Oman dan Qatar.
Langkah militer terbaru melibatkan pengalihan kapal induk USS Gerald R. Ford—kapal induk terbesar dan termutakhir di dunia—dari perairan Karibia menuju kawasan Teluk Persia. Kapal ini akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang telah berada di wilayah tersebut selama lebih dari dua minggu, lengkap dengan kapal perusak rudal pemandu dan aset pendukung lainnya. Kehadiran dua kelompok kapal induk sekaligus secara signifikan meningkatkan daya tempur udara dan kemampuan proyeksi kekuatan AS di kawasan.

Menurut pejabat militer, pengiriman USS Ford ini bertujuan sebagai cadangan jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan yang membatasi program nuklir dan rudal balistik Iran. Trump menegaskan, “Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya. Kapal itu akan berangkat sangat segera.” Perjalanan dari Karibia ke lepas pantai Iran diperkirakan memakan waktu beberapa minggu.
Pengamat mencatat bahwa keputusan ini tampak bertolak belakang dengan prioritas strategi pertahanan AS yang lebih menekankan Belahan Bumi Barat. Komando Selatan AS menegaskan bahwa kemampuan operasional tetap terjaga meski postur pasukan berubah, dengan fokus tetap pada penanganan ancaman ilegal di kawasan Amerika Latin.
Di sisi lain, situasi internal Iran semakin rumit. Aktivis hak asasi manusia melaporkan korban tewas akibat penindasan terhadap protes nasional bulan lalu telah melampaui 7.000 jiwa, dengan ribuan lainnya diduga masih hilang. Saat ini, keluarga korban mulai menggelar upacara duka tradisional 40 hari, yang dalam budaya Syiah sering menjadi momen berkumpul dan berpotensi memicu demonstrasi baru.
Baca juga : Masjid Agung Omari Gaza Hancur dalam Perang, Warisan Berabad-abad Terancam Hilang
Video yang beredar di media sosial menunjukkan pelayat di berbagai provinsi, termasuk Razavi Khorasan, menggelar acara dengan nuansa patriotik. Mereka menyanyikan lagu “Ey Iran” era pra-Revolusi 1979, yang kini kadang dimanfaatkan pemerintah untuk membangkitkan semangat nasionalisme, namun dalam konteks ini justru mencerminkan penolakan terhadap otoritas yang ada.
Negara-negara Teluk telah memperingatkan bahwa eskalasi militer berisiko memicu konflik regional baru, terutama setelah kawasan masih trauma akibat perang Israel-Hamas di Gaza. Sementara itu, pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran pekan lalu di Oman belum membuahkan hasil konkret, meski Trump optimistis: “Saya kira negosiasi ini akan berhasil. Jika tidak, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran.”
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini, Trump menekankan pentingnya melanjutkan dialog, sementara Netanyahu mendesak agar kesepakatan apa pun mencakup pembatasan program rudal balistik Iran serta penghentian dukungan terhadap kelompok militan seperti Hamas dan Hizbullah.
Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya semata untuk tujuan damai, meski sebelumnya telah mencapai tingkat pengayaan uranium 60 persen—hanya selangkah teknis dari level senjata. Di tengah tekanan sanksi dan kemarahan publik yang belum reda, pengiriman kapal induk AS ini semakin mempertegas sikap keras Washington: diplomasi tetap diutamakan, tetapi opsi militer siap diaktifkan jika diperlukan.
Pewarta : Anjar Bramantyo

