RI News Portal. Banda Aceh, 7 Desember 2025 – Presiden Prabowo Subianto pada Minggu pagi kembali bertolak ke Provinsi Aceh, hanya berselang dua hari setelah kunjungan pertamanya pada Jumat (5/12). Keberangkatan ini menegaskan komitmen kepala negara untuk memastikan penanganan banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah kabupaten di Aceh berjalan cepat dan terukur.
Pesawat kepresidenan Indonesia-1 lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pukul 07.55 WIB menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar. Setibanya di Aceh sekitar pukul 10.30 WIB, Presiden langsung menuju beberapa titik terparah, antara lain Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, yang hingga kini masih terisolasi akibat putusnya akses jalan raya lintas Tengah Aceh.
Kunjungan kedua ini berbeda karakternya dengan lawatan Jumat lalu yang bersifat reaktif dan simbolis. Kali ini, Prabowo membawa serta tim terbatas namun strategis: Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo. Formasi ini menunjukkan pendekatan yang lebih teknis-operasional ketimbang seremonial.

Di lapangan, Kepala Negara dijadwalkan menerima laporan langsung dari Pj. Gubernur Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, serta kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi dan kabupaten. Fokus utama adalah percepatan pembukaan akses jalan Takengon–Bireuen yang masih terputus di tiga titik longsor, distribusi logistik ke 14 kecamatan terisolir, serta rencana relokasi sementara bagi 2.847 jiwa yang rumahnya hancur total.
“Kunjungan hari ini bukan sekadar meninjau, tapi memastikan bahwa seluruh alat negara bergerak secara sinkron,” ujar seorang pejabat tinggi Sekretariat Negara yang enggan disebut namanya. “Presiden ingin melihat langsung apakah arahan yang diberikan Jumat lalu sudah dilaksanakan atau masih ada hambatan birokrasi dan logistik.”
Pemerintah pusat telah menetapkan status tanggap darurat banjir dan longsor Aceh diperpanjang hingga 20 Desember 2025. Sebanyak 12 helikopter TNI AU dan satu unit Kapal Rumah Sakit KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 telah dikerahkan untuk mendukung evakuasi medis dan distribusi bantuan. Total bantuan logistik yang telah masuk hingga Minggu pagi mencakup 120 ton beras, 45.000 paket makanan siap saji, 15.000 lembar terpal, serta obat-obatan dan selimut.
Dalam pernyataan resminya pada Jumat malam, Prabowo menegaskan bahwa bencana di Aceh bukan hanya urusan daerah, melainkan ujian bagi soliditas nasional. “Kita harus membuktikan kepada rakyat bahwa ketika musibah datang, negara hadir lebih cepat daripada musibah itu sendiri,” tegasnya.
Kehadiran presiden untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 48 jam di lokasi yang sama merupakan preseden langka dalam sejarah penanganan bencana di Indonesia era Reformasi. Pengamat politik dari Universitas Syiah Kuala, Dr. Teuku Alfian, menilai langkah ini sebagai bentuk “diplomasi bencana” yang menggabungkan dimensi kepemimpinan simbolik sekaligus manajerial.

“Di Aceh yang memiliki memori panjang terhadap kehadiran negara, gestur ini sangat bermakna,” ujar Alfian. “Tapi yang lebih penting adalah follow-up konkret: apakah janji percepatan pemulihan benar-benar terwujud dalam hitungan minggu, bukan bulan.”
Hingga berita ini diturunkan, Presiden masih berada di Kabupaten Bener Meriah dan diagendakan kembali ke Jakarta malam ini. Masyarakat Aceh yang terdampak menyampaikan harapan yang sama: kehadiran kepala negara tidak berhenti pada foto dan helikopter, melainkan pada kembalinya listrik, air bersih, dan akses jalan dalam waktu dekat.
Pewarta : Jaulim Saran

