RI News. Lampung Barat — Di tengah perbukitan hijau Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat, Turjandi (50) menjadi teladan sukses bagi petani lokal. Petani muda ini berhasil mengubah lahan kopi yang dulu kurang menguntungkan menjadi kebun alpukat jenis Mentega dan Siger yang kini menghasilkan buah premium berukuran jumbo.
Alpukat Mentega dan Siger dikenal sebagai varietas unggulan dengan ukuran besar yang luar biasa. Dua buah saja bisa mencapai berat lebih dari satu kilogram, bahkan ada yang mencapai satu kilogram per buah. Daging buahnya tebal, padat, bertekstur lembut, dan memiliki rasa legit yang khas, menjadikannya favorit di pasar buah premium.
Turjandi mengatakan, ia mulai menanam alpukat Mentega dan Siger sekitar 15 tahun lalu di lahan seluas dua hektare. Keputusan itu diambil saat harga kopi sedang anjlok. “Waktu itu kopi harganya sangat murah, sehingga saya bertekad membongkar lahan dan beralih ke alpukat. Saya sudah tahu potensi hasil panen alpukat ini bisa berlipat ganda dibandingkan kopi,” ungkapnya saat ditemui Rabu (25/3/2026).

Kini, usahanya mulai menuai hasil. Harga jual alpukat Mentega dan Siger di tingkat petani mencapai Rp25.000 hingga Rp35.000 per kilogram, jauh lebih menarik dibandingkan komoditas lama. Keberhasilan Turjandi pun menginspirasi warga sekitar. Menurutnya, hampir 90 persen masyarakat Desa Lumbok kini beralih menanam kedua jenis alpukat tersebut.
“Setiap 10 hari sekali, panen di satu desa ini bisa mencapai lebih dari 6 ton,” jelas Turjandi. Keunggulan lain dari alpukat Mentega adalah siklus produksinya yang kontinu. Setelah panen, pohon langsung berbunga lagi dan berbuah tanpa jeda panjang, sehingga memberikan penghasilan yang stabil sepanjang tahun.
Bagi Turjandi, menanam alpukat bukan sekadar usaha ekonomi, melainkan investasi jangka panjang yang juga mendukung kelestarian lingkungan. Pohon-pohon besar ini membantu menjaga tanah di wilayah perbukitan sekaligus menyediakan pendapatan cukup untuk menghidupi keluarga. Bahkan, sebagian hasil panen digunakan untuk mendukung kegiatan organisasi kemasyarakatan di desa.
Baca juga : Kaum Boro Asal Wonogiri Mulai Kembali ke Perantauan Pasca-Lebaran
“Selain melestarikan lingkungan, hasilnya bisa digunakan untuk kemaslahatan bersama,” tambahnya.
Turjandi pun aktif mengajak generasi muda di Desa Lumbok untuk serius menggeluti pertanian. Menurutnya, bertani bukan pekerjaan biasa, melainkan profesi mulia yang menjanjikan masa depan cerah jika ditekuni dengan tekad kuat.
“Mari para pemuda antusias bertani tanaman bernilai jual tinggi seperti ini. Bertani adalah hal sangat mulia dan bisa memberikan kehidupan yang lebih baik,” ajaknya.
Keberhasilan Turjandi dan warga Desa Lumbok menunjukkan bahwa dengan pilihan komoditas yang tepat serta ketekunan, lahan di Lampung Barat dapat menjadi sumber kesejahteraan berkelanjutan. Potensi alpukat premium ini diyakini masih bisa terus dikembangkan, baik dari sisi produksi maupun pemasaran, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.
Pewarta: Atalisyah

