RI News Portal. Dubai, United Arab Emirates — Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengeluarkan peringatan tegas pada hari Minggu bahwa setiap bentuk serangan militer dari Amerika Serikat terhadap Republik Islam akan memicu konflik berskala regional di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan di tengah eskalasi ketegangan yang dipicu oleh penindasan keras pemerintah terhadap gelombang protes nasional yang telah berlangsung sejak akhir Desember tahun lalu.
Berbicara di hadapan ribuan pendukung di kompleksnya di Teheran, bertepatan dengan peringatan awal Revolusi Islam 1979, Khamenei yang berusia 86 tahun menegaskan bahwa Iran bukan pihak yang memulai agresi. “Kami tidak berniat menyerang negara mana pun, tetapi jika ada pihak yang serakah dan mencoba menyerang atau mengganggu, bangsa Iran akan memberikan respons yang tegas dan berat,” ujarnya. Ia menuduh Washington bermaksud menguasai sumber daya minyak, gas alam, dan mineral Iran, serupa dengan pengaruh yang pernah dimiliki AS di masa lalu.
Pernyataan Khamenei ini merupakan ancaman paling eksplisit yang pernah disampaikannya terkait kemungkinan intervensi militer AS. Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump mengancam tindakan militer atas penindasan berdarah terhadap demonstran, serta menuntut negosiasi ulang mengenai program nuklir Iran pasca-konflik singkat dengan Israel pada Juni tahun lalu.

Protes yang dimulai pada 28 Desember awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial dan krisis ekonomi, namun dengan cepat berkembang menjadi tuntutan politik yang menantang otoritas Khamenei. Pemerintah Iran menyebut kerusuhan ini sebagai “upaya kudeta” yang berhasil digagalkan, dengan demonstran dituduh menyerang kantor polisi, fasilitas Pengawal Revolusi Islam (IRGC), bank, dan bahkan masjid, serta membakar salinan Al-Quran.
Penindasan tersebut telah menimbulkan korban jiwa dalam skala besar. Kelompok aktivis hak asasi manusia berbasis AS, yang mengandalkan jaringan informan di dalam negeri, melaporkan lebih dari 49.500 penahanan dan setidaknya 6.713 kematian, mayoritas di kalangan demonstran. Pemerintah Iran membantah angka tersebut, menyatakan korban jiwa hanya sekitar 3.117 orang per 21 Januari, dengan sebagian besar diklaim sebagai warga sipil, pasukan keamanan, dan “teroris”. Akses internet yang diputus oleh otoritas semakin menyulitkan verifikasi independen atas laporan-laporan ini.
Trump menetapkan dua “garis merah” utama: pembunuhan demonstran damai dan kemungkinan eksekusi massal terhadap tahanan. Ia juga menekankan pentingnya menyelesaikan isu nuklir Iran, yang sempat dinegosiasikan sebelumnya, meski AS pernah membom tiga situs nuklir selama perang singkat dengan Israel.
Baca juga : Uji Tahan Dingin Roket Bulan NASA: Wet Dress Rehearsal Artemis II
Di sisi lain, Iran merencanakan latihan militer dengan tembakan langsung di Selat Hormuz pada hari Minggu dan Senin. Selat ini merupakan jalur vital bagi seperlima perdagangan minyak dunia. Komando Pusat militer AS memperingatkan agar latihan tersebut tidak mengancam kapal atau pesawat AS, maupun mengganggu lalu lintas komersial.
Sebagai respons terhadap langkah Uni Eropa yang menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris atas perannya dalam penindasan, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengumumkan bahwa Republik Islam kini menganggap seluruh militer Uni Eropa sebagai kelompok teroris. Pengumuman ini bersifat simbolis, mengacu pada undang-undang timbal balik tahun 2019, dan disampaikan saat anggota parlemen mengenakan seragam IRGC sebagai bentuk solidaritas.

Menanggapi peringatan Khamenei, Trump menyatakan kepada wartawan bahwa AS memiliki armada terkuat di kawasan, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln yang ditempatkan di Laut Arab. “Kami harap bisa mencapai kesepakatan. Jika tidak, kita akan lihat apakah dia benar atau tidak,” katanya, sambil menambahkan bahwa Iran sedang bernegosiasi secara serius untuk menghindari konflik dan mencegah pengembangan senjata nuklir.
Situasi ini menandai puncak ketegangan terbaru antara Washington dan Teheran, di mana ancaman militer berpadu dengan upaya diplomasi yang rapuh, sementara rakyat Iran terus menghadapi konsekuensi dari krisis internal yang mendalam.
Pewarta : Anjar Bramantyo

