RI News Portal. Batang 5 Januari 2026 – Pemerintah melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DIY, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, telah menginisiasi proyek preservasi signifikan pada ruas jalan nasional Pantai Utara (Pantura) di wilayah Batang-Pekalongan, Jawa Tengah. Proyek ini melibatkan alokasi anggaran sebesar Rp251 miliar untuk mengubah konstruksi perkerasan jalan dari aspal fleksibel menjadi beton rigid pavement, sebuah pendekatan yang semakin diadopsi untuk mengatasi tantangan struktural pada jalur logistik utama.
Kontrak pekerjaan resmi ditandatangani pada 15 Desember 2025, menandai dimulainya tahap implementasi. Menurut Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ridwan Umbara, paket preservasi ini mencakup rekonstruksi pengerasan jalan sepanjang total 17 kilometer, dengan rincian 14 kilometer di Kabupaten Batang dan 3 kilometer di Kota Pekalongan. Ruas yang ditangani secara spesifik adalah Pekalongan-Batang-Plelen, yang merupakan bagian vital dari koridor Pantura.
Proses awal telah dimulai dengan kegiatan survei dan pengukuran teknis di lapangan, memastikan akurasi desain sebelum pelaksanaan konstruksi utama. Proyek ini dirancang sebagai pekerjaan multiyears (tahun jamak) dengan durasi 18 bulan, dijadwalkan rampung pada Juli 2027. Namun, prioritas diberikan pada segmen-segmen strategis untuk mendukung mobilitas musiman, khususnya menjelang arus mudik Lebaran 2026. Beberapa bagian jalan yang telah dikonversi ke beton diharapkan dapat difungsikan sebagian oleh masyarakat sebelum periode tersebut.

Prioritas awal difokuskan pada ruas Jalan Jenderal Sudirman di Kota Batang sepanjang 700 meter, serta beberapa titik kritis di jalur Batang-Kendal, terutama arah menuju Semarang yang diproyeksikan menjadi jalur mudik utama. Selain itu, empat titik spesifik di ruas Batang-Kendal juga akan mendapatkan penanganan serupa untuk memastikan kontinuitas lalu lintas.
Konversi ke perkerasan beton (rigid pavement) ini bukan sekadar perbaikan rutin, melainkan strategi struktural untuk meningkatkan daya tahan jalan terhadap beban berat kendaraan truk dan trailer yang intens melintas di Pantura. Jalur ini, sebagai urat nadi transportasi dan distribusi barang di Pulau Jawa, sering mengalami degradasi cepat pada perkerasan aspal akibat overload dan kondisi lingkungan. Rigid pavement menawarkan umur layanan lebih panjang, mengurangi frekuensi kerusakan berulang, serta meningkatkan stabilitas permukaan jalan yang berdampak pada keselamatan dan kenyamanan pengendara.
Baca juga : Pengaruh Alkohol dalam Tindak Kejahatan Jalanan: Upaya Pelarian Dramatis di Jakarta Selatan
Dalam konteks akademis teknik sipil, pilihan rigid pavement mencerminkan evolusi pendekatan preservasi jalan nasional di Indonesia. Studi komparatif menunjukkan bahwa perkerasan beton lebih resisten terhadap deformasi permanen (rutting) dan retak akibat beban berulang, meski biaya awal lebih tinggi dibandingkan aspal. Namun, analisis siklus hidup (life-cycle cost) sering membuktikan efisiensi jangka panjang, terutama pada koridor lalu lintas tinggi seperti Pantura.
Meski demikian, pelaksanaan proyek ini memerlukan koordinasi intensif untuk meminimalkan disrupsi lalu lintas. Pihak pelaksana menghimbau masyarakat untuk bersabar dan memberikan dukungan selama masa konstruksi, mengingat manfaat jangka panjang bagi konektivitas regional dan ekonomi lokal.
Inisiatif ini sejalan dengan upaya nasional memperkuat infrastruktur jalan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi, khususnya di wilayah pesisir utara Jawa yang rentan terhadap tekanan logistik. Dengan target penyelesaian bertahap, proyek ini diharapkan menjadi model bagi preservasi serupa di ruas-ruas kritis lainnya.
Pewarta : Ikhwanudin

