RI News Portal. Kota Tegal, Jawa Tengah – Pada awal tahun 2026, banjir yang melanda wilayah Kelurahan Krandon dan Kaligangsa di Kecamatan Margadana menjadi sorotan utama dalam upaya mitigasi bencana di kawasan pesisir utara Jawa. Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthaminnah, yang akrab disapa Mba Iin, melakukan peninjauan langsung pada Kamis pagi, 1 Januari 2026, sebagai wujud komitmen pemerintah daerah dalam mendampingi warga terdampak.
Kunjungan dimulai dari lokasi pengungsian di Jalan Ki Ageng Tirtayasa, di mana Mba Iin didampingi oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Camat Margadana, Lurah Krandon yang baru dilantik, serta tim relawan. Dalam interaksinya dengan pengungsi, ia tidak hanya menyapa langsung warga dari berbagai kelompok usia—termasuk anak-anak dan lansia—tetapi juga menyerahkan bantuan logistik esensial untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut pernyataan resmi Mba Iin, genangan air di area terdampak telah menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan. Saat ini, sekitar 80 warga masih memanfaatkan fasilitas pengungsian, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di rumah meskipun kondisi lingkungan belum sepenuhnya pulih. “Kesehatan pengungsi secara umum dalam kondisi baik, dengan penanganan cepat untuk keluhan ringan seperti masuk angin. Pasokan logistik, termasuk makanan dan obat-obatan, telah terpenuhi dengan baik,” ungkapnya.
Banjir ini, yang sering kali bersifat musiman, dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan aliran kiriman dari wilayah hulu di kabupaten tetangga, serta potensi pengaruh banjir rob pesisir yang diprediksi BMKG pada periode awal Januari 2026. Fenomena ini menyoroti kerentanan Kota Tegal sebagai daerah muara, di mana sistem drainase dan pengendalian air menjadi faktor krusial.

Dalam perspektif kebijakan, Mba Iin menekankan pendekatan holistik dalam penanganan bencana. Langkah jangka pendek mencakup optimalisasi pompa air dan pengerahan sumber daya untuk percepatan surutnya genangan, sementara strategi jangka panjang melibatkan koordinasi lintas daerah dengan pemerintah kabupaten sekitar. “Penanganan harus komprehensif, dari hulu hingga hilir, untuk mengantisipasi dampak berulang yang dialami masyarakat setiap tahun,” tegasnya, seraya mengapresiasi respons cepat dari BPBD, relawan, serta aparat kelurahan dan kecamatan yang memastikan operasional dapur umum berjalan lancar.
Baca juga : Refleksi Spiritual dan Solidaritas di Penghujung Tahun: Doa Bersama Warga Kampung Candi Sewu Sambut 2026
Peninjauan dilanjutkan ke Kelurahan Kaligangsa, menandakan fokus berkelanjutan pada wilayah rawan serupa. Kasus ini tidak hanya mencerminkan tantangan adaptasi terhadap perubahan iklim dan pola curah hujan ekstrem, tetapi juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antarinstansi dalam membangun resiliensi komunitas. Harapan ke depan adalah pencegahan rekurensi melalui investasi infrastruktur yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Pewarta: Ikhwanudin

