RI News Portal. Mantehage, Minahasa Utara,Manado, 18 Desember 2025 – Akses terhadap listrik yang andal merupakan salah satu indikator utama pembangunan berkelanjutan di daerah kepulauan Indonesia. Di Provinsi Sulawesi Utara, khususnya di wilayah Nusa Utara, tantangan geografis sering kali menghambat pemerataan infrastruktur dasar seperti kelistrikan. Namun, pada akhir tahun 2025, empat pulau terpencil—Buhias, Kakorotan, Mantehage, dan Nain—mengalami transformasi signifikan dengan diterapkannya layanan listrik selama 24 jam penuh.
Sejak introduksi listrik di Pulau Mantehage pada tahun 1994, masyarakat setempat hanya menikmati pasokan terbatas, sering kali tidak lebih dari beberapa jam per hari. Kondisi serupa dialami di pulau-pulau lain, di mana kegelapan malam menjadi rutinitas yang membatasi aktivitas sosial-ekonomi. Upaya sebelumnya untuk memperluas jangkauan sering menemui kendala teknis dan logistik, mengingat lokasi pulau-pulau ini yang terisolasi dan bergantung pada pembangkit lokal.
Perubahan ini terealisasi melalui sinergi antara pemerintah provinsi, kementerian terkait, dan penyedia layanan energi negara. Prosesnya melibatkan relokasi peralatan pembangkit untuk meningkatkan kapasitas, sehingga menciptakan surplus daya yang mendukung operasional berkelanjutan. Peresmian dilakukan pada 16 Desember 2025 di Manado, dihadiri oleh pejabat tinggi pusat dan daerah, menandai komitmen bersama dalam mengatasi disparitas energi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dampak dari peningkatan ini melampaui sekadar penerangan. Dari perspektif akademis, akses listrik 24 jam berpotensi mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 7 tentang energi terjangkau dan bersih, serta SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Anak-anak di pulau-pulau tersebut kini dapat belajar lebih lama tanpa terganggu kegelapan, sementara fasilitas kesehatan dasar dapat beroperasi lebih efektif. Di bidang ekonomi, nelayan dan pelaku usaha lokal mendapatkan peluang baru, seperti pengolahan hasil tangkapan yang lebih efisien, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mengurangi kemiskinan struktural.
Suara dari masyarakat mencerminkan harapan yang tinggi. Aktivis pemuda setempat, Mario Mamuntu, menyatakan apresiasi mendalam atas inisiatif ini. “Ini merupakan wujud perhatian nyata terhadap masyarakat kepulauan yang selama ini merindukan akses energi penuh,” katanya. Pernyataan serupa datang dari warga Pulau Mantehage, yang menekankan bagaimana listrik stabil membuka pintu bagi kemajuan ekonomi dan pendidikan.
Secara lebih luas, pencapaian ini menjadi bagian dari visi provinsi untuk mewujudkan “Sulawesi Utara Terang” pada tahun mendatang, dengan target menghilangkan kegelapan total di seluruh wilayah kepulauan. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa pendekatan terintegrasi—menggabungkan kebijakan pusat, dukungan daerah, dan inovasi teknis—dapat efektif mengatasi ketimpangan infrastruktur di negara kepulauan seperti Indonesia.
Ke depan, monitoring dan evaluasi berkelanjutan diperlukan untuk memastikan keberlanjutan layanan ini, termasuk adaptasi terhadap perubahan iklim yang mungkin memengaruhi infrastruktur kelistrikan di pulau-pulau kecil. Kasus Sulawesi Utara ini dapat menjadi model bagi provinsi lain dalam mendorong inklusi energi sebagai fondasi pembangunan nasional.
Pewarta : Steven Tumuyu

