RI News Portal. Jakarta 28 Desember 2025 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mendeteksi kemunculan bibit siklon tropis yang diberi kode 96S di perairan Samudra Hindia, tepatnya di sebelah selatan wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Sistem ini pertama kali teridentifikasi pada dini hari Kamis, 25 Desember 2025, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 15 knot (sekitar 28 km/jam) dan tekanan udara minimum di pusatnya sekitar 1003 hPa.
Analisis citra satelit menunjukkan pertumbuhan awan konvektif di sekitar pusat sirkulasi, meskipun organisasi sistem masih belum sempurna dan cenderung sporadis, terutama di sektor utara. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menyatakan bahwa dalam 24 jam ke depan, bibit siklon ini diperkirakan tetap persisten, dengan potensi peningkatan kecepatan angin hingga 20 knot pada periode 24-48 jam mendatang. Sirkulasi angin di utara pusat sistem diprediksi semakin tertutup, sementara arah pergerakan awal mengarah timur-tenggara, sebelum berbelok ke barat laut hingga barat pada 48-72 jam berikutnya.
Meskipun potensi evolusi bibit 96S menjadi siklon tropis penuh dalam tiga hari ke depan dikategorikan rendah, dampak tidak langsungnya terhadap cuaca di Indonesia bagian selatan cukup signifikan. Sistem ini dapat memicu peningkatan konveksi atmosfer, yang berujung pada hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di daratan Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Di wilayah pesisir selatan Bali hingga Nusa Tenggara Timur, angin kencang berpotensi terjadi, disertai risiko banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang di area rawan.

Kondisi kelautan juga menjadi perhatian utama. Gelombang laut dengan ketinggian sedang, yaitu antara 1,25 hingga 2,5 meter, diprakirakan melanda perairan selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Samudra Hindia selatan Jawa Tengah hingga Daerah Istimewa Yogyakarta, serta perairan selatan dari Pulau Lombok hingga Pulau Timor, termasuk Laut Sawu. Sementara itu, gelombang lebih tinggi, mencapai 2,5 hingga 4 meter, berpotensi di Selat Bali bagian selatan serta Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur.
Guswanto menekankan pentingnya kewaspadaan bagi masyarakat pesisir di wilayah selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT terhadap gelombang yang dapat melebihi 2,5 meter. “Masyarakat di pesisir perlu berhati-hati, sementara nelayan dan operator transportasi laut disarankan menunda aktivitas jika kondisi membahayakan,” ujarnya kepada wartawan pada Sabtu, 27 Desember 2025. Ia juga mengimbau penduduk di daratan untuk mengantisipasi hujan lebat dan angin kencang yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Baca juga : Kemenangan Dramatis Persekat Tegal di Markas Adhyaksa FC: Bukti Ketangguhan Mental Laskar Ki Gede Sebayu
Pemerintah daerah di wilayah rawan diminta meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk koordinasi dengan instansi terkait untuk mitigasi risiko. Masyarakat dihimbau untuk secara rutin memantau pembaruan informasi cuaca guna mengurangi potensi kerugian. Fenomena ini menjadi pengingat akan dinamika atmosfer musiman di belahan bumi selatan, di mana pembentukan bibit siklon sering terjadi pada periode akhir tahun, dipengaruhi oleh suhu permukaan laut yang hangat dan gangguan gelombang atmosfer.
Pewarta : Yudha Purnama

