RI News Portal. Trenggalek, Jawa Timur – Pada akhir pekan lalu, komunitas Dewan Kebudayaan dan Adat Trenggalek (DEKAT) menyelenggarakan acara syukuran sekaligus perayaan akhir tahun di sebuah kafe nyaman di Dusun Sumber Gedong, Kabupaten Trenggalek. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana hangat, penuh keakraban, dan mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Kafe yang menjadi lokasi acara dikenal sebagai ruang berkumpul yang sarat nuansa kebersamaan. Tempat ini merupakan warisan usaha keluarga dari seorang pendidik senior di SMA Negeri 1 Trenggalek yang telah meninggal dunia, dan kini dikelola oleh seorang guru di salah satu sekolah menengah kejuruan di wilayah tersebut. Pemilihan lokasi ini bukan sekadar praktis, melainkan juga simbolis, menggabungkan elemen pendidikan dan komunitas dalam satu wadah.
Acara ini mendapat dukungan penuh dari seorang notaris terkemuka di Trenggalek yang aktif dalam berbagai inisiatif sosial dan kebudayaan. Kehadiran para pengurus serta anggota komunitas DEKAT, disertai sahabat dari berbagai kelompok lintas sektor dan warga sekitar, semakin memeriahkan pertemuan tersebut. Ratusan hadiah pintu dibagikan kepada peserta sepanjang acara, menambah kegembiraan dan memperkuat ikatan sosial di antara mereka.

Dalam perspektif akademis, kegiatan semacam ini dapat dipandang sebagai manifestasi dari konsep guyub rukun dalam budaya Jawa, yang menekankan harmoni sosial dan gotong royong sebagai fondasi masyarakat. Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual syukur tahunan, tetapi juga sebagai medium untuk mempertahankan identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi. Kebersamaan yang terbangun mencerminkan bagaimana komunitas grassroots seperti DEKAT berperan dalam menjaga kohesi sosial, sekaligus sebagai bentuk resistensi lembut terhadap individualisme yang semakin dominan di era digital.
Ketua komunitas DEKAT, Tio Agustin, dalam sambutannya menekankan pentingnya produktivitas berkarya di masa mendatang. Ia menyatakan komitmen untuk terus mendukung kebijakan pemerintah daerah dalam melestarikan dan mengembangkan potensi adat serta budaya Trenggalek. “Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga modal masa depan. Dengan budaya yang hidup, Trenggalek akan memiliki karakter yang kuat dan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Baca juga : Kapolda Bali Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat 1.258 Personel di Gedung Presisi
Pernyataan tersebut selaras dengan teori pembangunan berkelanjutan yang menempatkan budaya sebagai pilar keempat di samping ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam konteks lokal, budaya hidup seperti yang digambarkan dapat menjadi katalisator untuk pemberdayaan masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan globalisasi yang sering kali mengerosi identitas regional.
Melalui pertemuan sederhana namun bermakna ini, komunitas DEKAT menyemai optimisme untuk tahun baru. Harapannya, semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap warisan budaya semakin menguat, membuka peluang kolaborasi lebih luas yang tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menghasilkan inovasi kreatif bagi kemajuan Trenggalek. Kegiatan seperti ini mengingatkan bahwa pelestarian budaya terbaik terjadi melalui praktik sehari-hari yang inklusif dan berbasis komunitas.
Pewarta : Sugeng R

