RI News. Jakarta, Jumat 10 Juli 2026 — Sektor pariwisata Indonesia berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan positif hingga Mei 2026 meskipun dibayangi berbagai dinamika geopolitik di tingkat global. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata di Jakarta.
Menurut Widiyanti, capaian Mei 2026 menjadi yang tertinggi sepanjang tahun berjalan. “Capaian Mei 2026 merupakan capaian kunjungan tertinggi sepanjang tahun berjalan, menunjukkan bahwa minat wisatawan asing terhadap Indonesia tetap kuat,” ujarnya. Pertumbuhan ini tercermin dari peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), lonjakan perjalanan wisatawan nusantara (wisnus), serta surplus kunjungan yang terus membaik, diikuti pemulihan tingkat okupansi hotel yang semakin stabil.
Widiyanti menjelaskan bahwa perjalanan wisnus masih menjadi tulang punggung utama pergerakan pariwisata domestik. Pada Mei 2026, kunjungan wisman mencapai 1,38 juta, naik 5,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif sejak Januari hingga Mei 2026, total kunjungan wisman menyentuh angka 6,07 juta atau tumbuh 7,68 persen year-on-year.

Pertumbuhan kunjungan wisman paling signifikan datang dari pasar Asia Tenggara yang melonjak 11,06 persen. Pasar Timur Tengah, Asia lainnya, Oseania, Afrika, dan Amerika juga mencatatkan pertumbuhan positif, meski pasar Eropa mengalami penurunan akibat ketegangan geopolitik global.
Sementara itu, perjalanan wisnus pada Mei 2026 tercatat sebanyak 106,16 juta, meningkat 8,69 persen dibandingkan Mei 2025. Peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh momentum libur nasional dan cuti bersama yang dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata di dalam negeri. Kumulatif Januari–Mei 2026, wisnus mencapai 523,22 juta perjalanan atau naik 2,86 persen.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menambahkan bahwa terjadi penurunan perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri. Pada Mei 2026, jumlahnya sebanyak 550.382 perjalanan, turun 6,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara kumulatif, penurunan mencapai 3,88 persen.
“Penurunan perjalanan ke luar negeri terjadi bersamaan dengan meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik destinasi dalam negeri tetap kuat dan semakin menjadi pilihan masyarakat Indonesia,” kata Ni Luh Puspa.
Baca juga : Tragedi di Pasar Wonogiri: Lansia Berinisial M Meninggal di Kios Darurat, Diduga Serangan Jantung
Indonesia masih mencatatkan surplus kunjungan wisatawan yang cukup lebar. Pada Mei 2026 surplus mencapai 0,83 juta kunjungan, sementara secara kumulatif Januari–Mei 2026 surplusnya mencapai 2,37 juta kunjungan. Kondisi ini diyakini mendukung pencapaian net devisa pariwisata yang positif bagi Indonesia.
Pemulihan sektor akomodasi juga semakin terlihat. Tingkat okupansi hotel bintang pada Mei 2026 mencapai 50,76 persen, naik 2,48 poin persentase dibandingkan Mei 2025. Secara kumulatif, okupansi mencapai 46,99 persen atau meningkat 2,14 poin persentase.
“Okupansi hotel yang membaik menjadi sinyal positif bagi ekosistem pariwisata karena berhubungan langsung dengan pergerakan wisatawan, pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas ekonomi pendukung di destinasi,” tambah Ni Luh Puspa.
Pewarta : Yogi Hilmawan
Tagline: #PariwisataIndonesia, #WidiyantiPutriWardhana, #KunjunganWisman, #WisataNusantara, #EkonomiPariwisata, #SurplusKunjungan, #OkupansiHotel,

