RI News Portal. Quetta, Pakistan — Gelombang serangan terkoordinasi yang diklaim oleh Baloch Liberation Army (BLA) melanda sembilan distrik di Provinsi Balochistan, Pakistan, pada akhir pekan lalu, menewaskan sedikitnya 31 warga sipil dan 17 personel keamanan. Respons cepat pasukan keamanan Pakistan dilaporkan menewaskan 145 anggota kelompok militan yang disebut pemerintah sebagai “Fitna al-Hindustan”—istilah resmi Islamabad untuk menunjuk BLA yang diduga mendapat dukungan asing.
Menurut pernyataan Kepala Menteri Balochistan Mir Sarfraz Bugti dalam konferensi pers di Quetta pada Minggu (1 Februari 2026), operasi kontraterorisme selama 40 jam terakhir berhasil menggagalkan upaya militan untuk menyandera warga dan mengacaukan pusat kota. Bugti menegaskan bahwa jasad 145 militan kini berada dalam penguasaan pihak berwenang, dengan beberapa di antaranya beridentitas warga Afghanistan. Ia menyebut jumlah korban militan ini sebagai yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Serangan dimulai sekitar pukul 03.00 waktu setempat pada Sabtu, menargetkan instalasi polisi, kantor pemerintahan, penjara keamanan tinggi, serta area sipil di Quetta, Gwadar, Mastung, Nushki, Kharan, Panjgur, dan Pasni. Saksi mata melaporkan suasana kepanikan di jalan-jalan Quetta, di mana kelompok bersenjata sempat bergerak bebas sebelum pasukan keamanan mengambil alih kendali. Salah satu insiden paling tragis terjadi di Gwadar, ketika militan menyerbu rumah seorang pekerja Baloch dan membunuh lima perempuan serta tiga anak-anak—tindakan yang dikecam keras oleh Bugti sebagai pelanggaran kemanusiaan.

BLA, kelompok separatis etnis Baloch yang telah dilarang di Pakistan sejak lama, mengklaim tanggung jawab atas serangan tersebut melalui pernyataan resmi. Kelompok ini kerap menargetkan pasukan keamanan, proyek infrastruktur, dan kepentingan asing—terutama China—di tengah upaya Pakistan mengembangkan sektor pertambangan dan mineral di wilayah kaya sumber daya itu. Serangan ini terjadi di tengah momentum investasi asing, termasuk kesepakatan senilai 500 juta dolar AS dari perusahaan logam Amerika pada September 2025, hanya sebulan setelah Departemen Luar Negeri AS menetapkan BLA sebagai organisasi teroris asing.
Bugti secara tegas menuding India dan Afghanistan sebagai pendukung utama para penyerang. Ia menyebut pemimpin senior BLA beroperasi dari wilayah Afghanistan, meskipun Kabul dan New Delhi secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Pernyataan ini menggemakan ketegangan lintas batas yang memburuk sejak serangan udara Pakistan ke wilayah Afghanistan pada Oktober lalu, yang menargetkan tempat persembunyian Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP). Bugti menyoroti pelanggaran terhadap Perjanjian Doha 2020 oleh Taliban Afghanistan, yang menjanjikan tidak menggunakan wilayahnya untuk menyerang negara lain.
Baca juga : Peringatan Khamenei: Serangan AS Berisiko Picu Perang Regional di Timur Tengah
Secara historis, Balochistan telah menjadi pusat pemberontakan separatis sejak dekade 1970-an, didorong oleh tuntutan otonomi lebih besar atau kemerdekaan dari pemerintah pusat Islamabad. Konflik ini semakin rumit dengan keterlibatan kelompok Islamis seperti TTP—sekutu Taliban Afghanistan—yang diduga memberikan dukungan logistik kepada BLA. Kekerasan terbaru ini menunjukkan eskalasi signifikan, baik dari segi skala koordinasi maupun korban jiwa, di tengah upaya pemerintah Pakistan menstabilkan provinsi tersebut guna menarik investasi dan memajukan pembangunan.
Sementara operasi pembersihan masih berlangsung dan sejumlah lokasi tetap disegel, pihak berwenang menegaskan bahwa situasi keamanan telah terkendali. Namun, insiden ini sekali lagi menegaskan kerentanan Balochistan terhadap dinamika geopolitik regional yang kompleks, di mana aspirasi lokal, kepentingan ekonomi global, dan rivalitas antarnegara saling bertautan.
Pewarta: Setiawan Wibisono

