RI News Portal. Washington/Kyiv/Moskow – Utusan Khusus Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump untuk penyelesaian krisis Ukraina, Letnan Jenderal (Purn.) Keith Kellogg, menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang “sangat dekat” dan kini hanya bergantung pada penyelesaian dua isu krusial: status wilayah Donbas dan nasib Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia yang saat ini dikuasai Rusia.
Pernyataan itu disampaikan Kellogg dalam pidato utama di Reagan National Defense Forum di California akhir pekan lalu, beberapa pekan sebelum ia resmi mengundurkan diri bersamaan dengan pelantikan pemerintahan Trump kedua pada 20 Januari mendatang.
“Kita sedang berada di ’10 meter terakhir’ dari lomba maraton,” ujar Kellogg menggunakan metafor atletik. “Bagian ini selalu yang paling berat. Jika dua masalah ini—wilayah, khususnya Donbas, dan PLTN Zaporizhzhia—dapat diselesaikan, maka saya yakin isu-isu lain akan mengalir dengan sendirinya.”

Kellogg, veteran perang Vietnam, Panama, dan Irak yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Dewan Keamanan Nasional pada masa jabatan pertama Trump, menekankan bahwa tingginya korban jiwa membuat penyelesaian segera menjadi keharusan moral sekaligus strategis. Menurut perhitungannya, kedua belah pihak telah menderita lebih dari dua juta korban (tewas dan luka) sejak invasi skala penuh Februari 2022—angka yang jauh melampaui perkiraan resmi yang pernah dirilis Kyiv maupun Moskow.
Sinyal optimistis dari Kellogg langsung berbenturan dengan respons dingin dari Kremlin. Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri utama Presiden Vladimir Putin, mengatakan kepada wartawan di Moskow pada Minggu (7/12) bahwa pembicaraan intensif pekan lalu antara Putin dengan utusan Trump Steve Witkoff dan Jared Kushner memang membahas “masalah teritorial”, namun dokumen-dokumen yang diajukan pihak Amerika Serikat masih memerlukan “perubahan serius, bahkan radikal”.
Baca juga : PDAM Tirtanadi Padangsidimpuan Terus Salurkan Bantuan Air Bersih Pasca-Banjir Bandang dan Longsor
Ushakov tidak merinci poin mana yang dianggap tidak dapat diterima Moskow, tetapi isyarat yang biasa digunakan Kremlin untuk merujuk pada tuntutan pengakuan atas seluruh wilayah Donetsk dan Luhansk sesuai batas administratif oblast serta penguasaan permanen atas wilayah yang diduduki di Kherson dan Zaporizhzhia.
Saat ini Rusia menguasai sekitar 19,2 persen wilayah Ukraina yang diakui secara internasional, termasuk keseluruhan Luhansk, lebih dari 80 persen Donetsk, serta sebagian besar Kherson dan Zaporizhzhia selatan. Kyiv masih menguasai sekitar 5.000 kilometer persegi di Donetsk barat daya, wilayah yang oleh Presiden Volodymyr Zelensky disebut sebagai “garis merah” yang tidak dapat diserahkan tanpa referendum nasional—prosedur yang dianggap tidak mungkin dilaksanakan di tengah pendudukan.
PLTN Zaporizhzhia, pembangkit nuklir terbesar di Eropa dengan enam reaktor VVER-1000, telah berada di bawah kendali Rusia sejak Maret 2022. Instalasi tersebut berulang kali menjadi sumber kekhawatiran Badan Energi Atom Internasional (IAEA) karena risiko kecelakaan radiologi akibat pertempuran di sekitarnya.

Para analis yang diwawancarai secara terpisah menilai perbedaan sikap antara Kellogg dan Ushakov mencerminkan jurang yang masih lebar. “Washington tampaknya berharap Rusia akan menerima garis kontak saat ini ditambah jaminan netralitas Ukraina,” kata seorang peneliti senior di lembaga pemikir Atlantic Council yang meminta namanya tidak disebut. “Sementara Moskow ingin pengakuan de jure atas seluruh empat oblast yang diklaim dianeksasi pada 2022, sesuatu yang hampir tidak mungkin diterima Kyiv atau sekutu Baratnya.”
Meski demikian, fakta bahwa pembicaraan tingkat tinggi terus berlangsung—termasuk pertemuan maraton empat jam Putin-Witkoff-Kushner pekan lalu—menunjukkan bahwa kanal komunikasi tetap terbuka. Presiden terpilih Trump berulang kali menyatakan bahwa mengakhiri perang Ukraina dalam 24 jam merupakan prioritas utama begitu ia kembali menjabat, meskipun ia belum merinci formula yang akan digunakan.
Sementara itu, di Kyiv, Zelensky kembali menegaskan bahwa “tidak ada satu inci pun wilayah Ukraina yang dapat diperdagangkan” dan segala keputusan harus melibatkan rakyat Ukraina secara langsung.
Dengan hanya enam minggu tersisa sebelum pelantikan, dunia menahan napas menanti apakah “10 meter terakhir” yang disebut Kellogg benar-benar dapat diselesaikan, atau justru menjadi titik patah negosiasi yang telah berlangsung diam-diam selama berbulan-bulan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

