RI News. Wonogiri, Jatisrono, 29 September 2026 – Musim kemarau panjang tahun ini membawa berkah beruntun bagi warga Dusun Jaten, Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono. Hanya dengan mengolah lahan kering yang dulu hanya ditanami padi musiman, petani lokal kini mengubahnya menjadi ladang semangka raksasa yang menggiurkan. Warto, satu-satunya petani semangka di desa ini, berhasil menuai 2.400 batang semangka dengan hasil yang memuaskan. Potensinya mencapai Rp40 juta—cuan sesuatu yang jarang dikira bisa datang dari tanah kering.
Warto menyampaikan kabar gembira itu kepada RI News Selasa (29/9/2026) di tengah panen raya di persawahan yang kini berubah menjadi pasar semangka. “Saya lebih memilih menanam semangka pada musim kemarau dibanding musim penghujan, meski harus mengeluarkan biaya listrik untuk menyedot air dari sumur bor,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Rasa manis khas muncul karena kandungan gula alami lebih tinggi di musim kering. “Buah di musim penghujan cenderung kurang manis dan banyak berair, beda sekali,” tambahnya.

Keberhasilan ini bukan kebetulan, melainkan bukti ketangguhan seorang petani yang sudah biasa bekerja di lahan kering sejak lama. Lahan yang dulu hanya menjadi padang rumput musim kemarau kini menjadi ladang buah yang menguntungkan.
Warto membagikan pengalamannya dengan penuh semangat. “Saya sudah berulang kali memanfaatkan musim kemarau untuk beralih ke semangka. Hasilnya selalu menjanjikan. Kali ini, dari 2.400 batang, saya perkirakan bisa meraup Rp40 juta,” ungkapnya sambil sesekali tertawa.
Warga sekitar memuji kegigihannya. Antok, tetangga Warto, mengatakan, “Pak Warto memang jagonya budidaya semangka di dusun kami. Setiap musim kemarau dia selalu sukses. Beliau adalah sosok petani yang gigih sejak dulu.”
Petugas Balai Penyuluh Pertanian Jatisrono, Supatmi, menjelaskan ciri-ciri semangka. Tanaman dari keluarga Cucurbitaceae ini berasal dari Afrika tropis. “Ia punya batang merambat dan daun besar. Buah bulat atau lonjong dengan kulit hijau gelap atau terang, daging merah segar yang sangat cocok dinikmati dingin,” tuturnya.
Baca juga : Gerakan Pasar Murah Polda DIY Rayakan HUT Lalu Lintas ke-71, Harga Bahan Pokok Lebih Terjangkau!
Warto menambahkan, budidaya semangka membutuhkan teknik khusus. “Prosesnya dimulai dari pembuatan tokolan (cikru) dari biji, lalu dipindahkan ke persemaian sebelum ditanam di lahan. Butuh sinar matahari cukup, suhu hangat, penyiraman teratur, pemupukan, dan pemangkasan agar tumbuh optimal,” jelasnya.
Selain Warto, semangat bertani modern terlihat jelas di Dusun Jaten. Maryono, pemuda penggerak kelompok petani milenial, bersama lima rekannya, juga berhasil mengembangkan hortikultura sejak 2023. Mereka mengelola bawang merah, tomat, cabai merah, kacang panjang, buncis, mentimun, dan tak ketinggalan semangka di musim kemarau. Meski awalnya ragu, kini kelompok ini menjadi inspirasi bagi petani muda lainnya.
Keberhasilan petani Tanggulangin ini menunjukkan betapa besar potensi pertanian di musim kemarau. Pendampingan Balai Penyuluh Pertanian semakin menunjukkan peranannya dalam mendorong inovasi dan ketahanan pangan lokal. Dengan semangat dan teknik yang tepat, lahan kering pun mampu menghasilkan panen melimpah sekaligus cuan di depan mata.
Pewarta: Nandar Suyadi
Tagline: #MusimKemarauBerkah, #PetaniSemangkaJatisrono, #LahanKeringCuan, #HortikulturaMilenial, #KetahananPangan, #TanggulanginSukses, #BudidayaSemangka, #RINews,
